Showing posts with label fenomena alam. Show all posts
Showing posts with label fenomena alam. Show all posts

Menyaksikan Fenomena Supermoon di Malam Minggu


Purnama penuh atau supermoon merupakan masa di mana bulan tampak dalam kondisi paling besar dan paling terang. Purnama penuh kali ini bahkan disebut-sebut sebagai purnama terbesar di tahun 2012.


Bulan akan berada dalam kondisi paling penuh pada pukul 23.35, Sabtu, 5 Mei 2012. Selang 25 menit kemudian, bulan akan tiba pada posisi terdekat dengan Bumi untuk tahun ini, yaitu pada jarak 221.801 mil atau sekitar 356.954 kilometer.

Meski kondisi terpenuh bulan terjadi tengah malam, para pengamat langit mengungkap bahwa waktu terbaik untuk melihatnya adalah saat malam belum terlalu larut, atau sesaat setelah bulan muncul.

Para penikmat langit bahkan menilai pemandangan terbaik adalah jika bulan tampak sedikit tertutup objek. Misalnya bulan yang tampak di belakang gedung pencakar langit karena bulan jadi terlihat jauh lebih besar.

Supermoon itu istilah astrologi. Istilah astronomi atas peristiwa ini disebut 'lunar perigee' purnama terdekat. Terjadi malam Minggu (waktu Indonesia) 5-6 Mei karena puncak purnama terdekat 6 Mei pukul 13.35.

Seluruh wilayah di Indonesia bisa menyaksikan fenomena ini. Meski akan memicu dampak gelombang pasang, tak ada dampak signifikan atas terjadinya Supermoon.

Sumber:
USAToday
http://nationalgeographic.co.id

5 Tempat Melihat Fenomena Alam Terbaik di Indonesia


Pemandangan alam Indonesia yang begitu indah, bisa anda nikmati di berbagai tempat. Tapi, tahukah anda tempat terbaik untuk menikmatinya? Berikut adalah 5 tempat terbaik untuk menyaksikan fenomena alam menakjubkan di Indonesia:

1. Sunrise di Gunung Bromo


Fenomena pertama yang asyik untuk diamati adalah sunrise atau matahari terbit. Tempat paling asyik untuk menyaksikan sunrise adalah Gunung Bromo. Untuk melihat sunrise, anda harus berangkat sejak subuh dari Desa Cemara Lawang, dan pergi ketempat penanjakan yang memang biasa dijadikan titik melihat sunrise. Di sini, anda bisa melihat matahari muncul dari ufuk timur dengan cahaya kemerahannya. Pemandangan semakin cantik dengan adanya efek kabut tebal di sekeliling gunung, dan latar Gunung Semeru.


Gunung Bromo yang terletak di Jawa Timur ini memang sudah terkenal sebagai tempat terbaik untuk melihat sunrise. Ketenarannya ini tidak hanya dikenal oleh penduduk Indonesia saja, tetapi juga luar negeri. Ini bisa dilihat dari wisatawan yang datang ke pendakian untuk menyaksikan sunrise. Anda bisa melihat wisatawan domestik dan mancanegara melebur menjadi satu untuk melihat keanggunan matahari ketika keluar dari persembunyiannya.

2. Sunset di Pantai Seminyak


Jika berjalan kaki ke arah utara dari Pantai Kuta, Anda akan tiba di pantai terbaik untuk melihat sunset atau matahari terbenam, Pantai Seminyak. Suasana pantai ini tidak jauh berbeda dengan kuta. Hanya saja karena lokasinya yang jauh dari pusat keramaian, pengunjung yang datang ke Pantai Seminyak tidak sebanyak Pantai Kuta.


Pantai berpasir putih ini dikenal sebagi tempat terbaik untuk melihat sunset. Selain tempatnya yang sepi, lokasinya yang tak jauh dari Bandara Ngurah Rai juga menjadi daya tarik tersendiri. Di sini, Anda bisa menikmati matahari terbenam sambil menikmati makanan yang disediakan di restoran sekitar pantai. Anda juga bisa menyaksikan sunset sambil bermain-main di pantai, ditemani deburan ombak dan temaramnya cahaya matahari.

3. Ombak di G-Land


Siapa sangka Indonesia memiliki tempat terbaik di dunia untuk surfing. Di Banyuwangi, ada Pantai Grajagan yang menawarkan ombak terbaik sedunia. Pantai inilah yang menjadi asal muasal nama G-Land. G-land sendiri adalah inisial dari kata Grajagan. Grajagan berada 52 km ke arah selatan dari Kota Banyuwangi. Pantai ini luas dengan pasir hitam, memiliki gua dan bukit yang indah.


Ombak di pantai ini sudah terkenal di dalam dan luar negeri karena ketinggiannya. Banyak peselancar yang tertarik datang untuk menaklukkannya. Ombak yang menggulung tinggi ini, berhasil menarik wisatawan untuk datang berselancar sejak dekade 1970-an. Tertarik mencoba?

4. Api Abadi


Apakah anda pernah mendengar tentang api yang tak kunjung padam? Ya, inilah api abadi yang terdapat di Madura. Sesuai dengan namanya, api ini selalu muncul dari dalam tanah dan tak pernah padam, sekali pun hujan mengguyurnya. Jika ingin melihat fenomena alam yang luar biasa ini, Anda bisa datang ke Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan.


Menurut penjelasan ilmiah, di sekitar kawasan tersebut banyak mengandung belerang yang kemudian bergesekan dengan oksigen. Efek yang ditimbulkan dari gesekan tersebut adalah munculnya api. Anda bisa melihat api tak kunjung padam ini dari balik pagar yang membatasinya. Tapi jika penasaran, anda dapat melihat fenomena ini dari dalam pagar.

5. Bleduk Kuwu


Setelah api tak kunjung padam, Anda bisa melihat fenomena lain yang ada di Indonesia, seperti Bledug Kuwu. Bledug Kuwu adalah sebuah kawah lumpur yang terletak di Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Di sini, Anda bisa melihat letupan lumpur yang mengandung garam dan berlangsung secara berkala. Biasanya letupan lumpur ini berlangsung selama 2-3 menit.


Semburan terbesar lumpur ini terpusat pada satu titik saja, dan diikuti dengan semburan kecil yang terdapat di beberapa tempat. Jika datang ke tempat ini, jangan terlalu mendekati lokasi letupan. Ini karena struktur tanah di sekitar letupan begitu gembur, bisa membuat siapa saja yang berjalan di atasnya terperosok.

Sumber: http://travel.detik.com






Langit Indonesia Akan Dihiasi Gerhana Bulan Total Terakhir Pada Tahun 2011.


Pada hari Sabtu (10/12/2011), langit malam di Indonesia akan dihiasi oleh gerhana Bulan. Gerhana ini cukup istimewa sebab menjadi Gerhana Bulan Total terakhir pada tahun 2011.

Gerhana mulai terjadi pada pukul 18.35 WIB ditandai dengan mulai bersentuhannya cakram Bulan terhadap penumbra. Namun, tahap awal gerhana akan sulit dilihat secara kasatmata. Gerhana baru bisa dilihat jelas sekitar pukul 19.46 WIB, saat bulan bersentuhan dengan umbra.

"Totalitas, yakni tertutupinya cakram Bulan secara sepenuhnya oleh umbra, terjadi pukul 21.07 hingga 21.57 WIB, selama 50 menit, dengan puncak gerhana pukul 21.32," Menurut Astronom Ma'rufin Sudibyo dalam posting di jejaring sosialnya.

Saat totalitas terjadi, jangan dikira Bulan akan lenyap. Bulan akan "berdarah", berwarna kemerahan seperti yang sering diperlihatkan dalam film tentang manusia serigala.

Tak seperti gerhana Matahari, gerhana Bulan aman disaksikan tanpa alat dan pelindung. Karena terjadi tak terlalu malam,  gerhana Bulan kali ini pas dinikmati sambil minum kopi atau bercengkerama bersama teman.

Jangan lupa, Anda pun bisa menyiapkan kamera DSLR untuk mengabadikan momen gerhana ini. Membuat serangkaian foto gerhana dari tahap awal hingga akhir patut dicoba.

Ada yang unik dari gerhana kali ini. Saat totalitas terjadi, Bulan akan tampak berada di depan Bimasakti. Jadi, jika dilihat, di belakang Bulan berdarah akan tampak kabut tipis.

Bimasakti adalah galaksi tempat Bumi bernaung. Bimasakti juga merupakan "monster" yang telah menelan galaksi-galaksi kecil lain serta sebagai salah satu galaksi tertua di semesta.

Bulan berdarah juga akan memiliki beberapa pendamping malam Minggu nanti. Salah satunya Jupiter, yang sejak beberapa waktu lalu terus-menerus tampak dan bisa dilihat dengan mata telanjang.

Selain itu, bintang Sirus yang menjadi bintang paling terang setelah Matahari juga akan terlihat. Ada juga gugus tujuh bintang bersaudara atau Pleiades. Galaksi Awan Magellan Kecil dan Besar juga akan terlihat.

Semua benda langit yang terlihat saat gerhana menjanjikan pemandangan yang menarik pada malam Minggu nanti. Akan tetapi, semua bisa lenyap tak terlihat apabila langit berawan dan hujan. Jadi, berdoa saja hal itu tak terjadi.

Gerhana kali ini bisa dilihat oleh masyarakat di seluruh Indonesia. Indonesia juga beruntung karena berpeluang menyaksikan seluruh tahap gerhana. Amerika Selatan, Afrika barat, dan seluruh wilayah Atlantik tak bisa menikmati gerhana ini.

Gerhana Bulan Total terjadi saat Bumi, Matahari, dan Bulan berada di satu garis lurus. Bulan akan ada di umbra (bayang-bayang inti) dan penumbra (tambahan) Bumi. Gerhana Bulan Total adalah salah satu fenomena alam yang telah dinikmati selama ribuan tahun, yang diterjemahkan menjadi makna yang berbeda di setiap kebudayaan.
Source: http://kompas.com

Topik Terkait:  astronomi, sains,  fenomena alam, 

19 Maret, Bulan Dekati Bumi 'SuperMoon'

Dongakkan kepala Anda ke arah langit malam, Sabtu 19 Maret 2011 mendatang. Jika cuaca cerah dan tidak mendung, akan terlihat penampakan Bulan lain dari biasanya.

Satelit Bumi itu akan nampak lebih besar. Di malam itu, Bulan akan berada dalam jarak terdekat dengan Bumi sejak tahun 1993, 18 tahun yang lalu. Fenomena ini disebut 'lunar perigee'. Sementara, ada astrolog yang menyebutnya  'SuperMoon'.

Penampakan Bulan malam itu akan sangat menarik untuk difoto. Tapi, sejumlah astronom meramalkan, kejadian itu mengkhawatirkan, karena akan mempengaruhi pola iklim di Bumi. Sebagian orang menghubung-hubungkan lunar perigee itu dengan bencana, seperti gempa.

Apa kata ilmuwan? "Tak akan ada gempa bumi atau gunung meletus," kata Pete Wheeler dari International Centre for Radio Astronomy, seperti dimuat News.com.au. "Kalau memang itu terjadi, itu sudah ditakdirkan."

Kata dia, saat itu, Bumi memang akan mengalami pasang lebih tinggi, dan surut lebih rendah dari biasanya. "Tak ada yang perlu dikhawatirkan," tambah Wheeler.

Untuk diketahui, sejumlah bencana di Bumi terjadi saat fenomena lunar perigee atau saat jarak antara Bumi dan Bulan dekat. Misalnya, badai New England pada 1938, atau banjir di Lembah Hunter pada 1955.

Meski tidak terjadi dalam periode itu, bencana Siklon Tracy pada 1974 dan badai Katrina pada 2005 juga terkait SuperMoon.

Mengamini pendapat Wheeler, astronom sekaligus dosen, David Reneke mengatakan, terlalu jauh untuk menghubungkan fenomena itu dengan bencana alam. "Kalau mau, Anda bisa saja menghubung-hubungkan hampir semua bencana alam yang terjadi dengan apa yang terlihat di langit malam -- komet, planet, matahari," kata Reneke.

Sementara, ilmuwan Bumi dan Planet dari Adelaide University, Dr Victor Gostin mengatakan, prediksi cuaca, gempa, gunung meletus, dan bencana alam lainnya berdasarkan konfigurasi planet, tidak pernah sukses.

Namun, memang dimungkinkan ada korelasi antara gempa bumi berskala besar di dekat katulistiwa dan Bulan -- kala baru, atau purnama.

"Analoginya seperti pasang surut air laut, pergerakan Bumi akibat gravitas Bulan bisa memicu gempa bumi."

Heboh, Fenomena Halo Matahari di Langit Yogya

Ada yang tak biasa di langit Yogyakarta, Selasa siang 4 Januari 2011. Pukul 11.15 Waktu Indonesia Barat, penampakan Matahari tak seperti biasanya.

Terjadi fenomena halo Matahari, saat Sang Surya nampak diselubungi lingkaran yang mirip seperti pelangi. Penampakan itu membuat warga Yogyakarta heboh. 



Fenomena halo Matahari juga pernah terjadi di Padang Kamis, 21 Oktober 2010. Warga sempat cemas karena mengaitkannya dengan peristiwa gempa besar yang pernah terjadi.

Fenomena ini juga pernah terjadi sehari setelah gempa besar 30 September 2009.

Tapi jangan cemas dulu. Penjelasanan soal fenomena itu disampaikan oleh staf observasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Yogyakarta (BMKG), Heru Gunawan.

Ia menjelaskan bahwa fenomena halo Matahari terjadi karena pembiasan kristal es yang berada di sekitar Matahari yang membentuk semacam pelangi.


Fenomena ini biasanya terjadi selama 30 menit, tergantung kecepatan angin. Ketika cepat, fenomena itu cepat selesai, kalau hembusan angin stabil dapat berlangsung lama.

Tidak semua orang bisa melihat fenomena itu. Untuk hari ini, mungkin hanya masyarakat Yogya yang bisa menikmatinya.

Soal apakah halo Matahari bisa jadi petanda bencana, Heru menegaskan, tidak. Halo Matahari fenomena alam biasa, tidak ada hubungannya dengan bencana alam, gempa misalnya.

Demikian juga dengan awan cirrus -- yang dilaporkan terlihat sebelum gempa mengguncang Yogya tahun 2006 lalu. Kata Heru, itu adalah fenomena alam.

Misteri Matahari Kembar di China

Misteri Matahari Kembar di China
Sebuah video yang menayangkan penampakan Matahari kembar di langit China menghebohkan dunia maya. Salah satu Matahari berwarna oranye, lainnya lebih kuning dan nampak lebih tinggi.

Apa yang sebenarnya terjadi? Situs sains, Life's Little Mysteries menanyakan fenomena tersebut pada astronom dari University of Illinois, Jim Kaler.

Menurut Kaler, penampakan Matahari ganda adalah efek dari refraksi atau pembiasan optikal. Namun, tambah dia, "ini sangat langka."

"Saya meragukan bahwa fenomena itu rekayasa komputer," kata Kaler. "Pasti ada semacam gumpalan atmosfer di suatu tempat yang mengakibatkan fenomena spektakuler itu. Ini memang nampak seperti fatamorgana," tambah dia.

Fatamorgana biasanya terjadi saat cahaya terbias. Biasanya terjadi dekat horison, di mana udara lebih tebal, dan selaras secara vertikal di atas atau di bawah sumber cahaya asli - bukan di sebelahnya, seperti dalam video. Menurut Kaler, perbedaan itu mungkin ketika potongan atmosfer berada di depan Matahari dan menciptakan efek khusus.

Meski luar biasa, penampakan Matahari kembar ini sebelumnya pernah terjadi. Juga penampakan Bulan kembar. Seperti yang tertera dalam buku "Light and Color in the Outdoors" karya astronom Marcel Minnaert.

Sementara, sejumlah ilmuwan ahli optikal atmosfer lain yang dihubungi Life's Little Mysteries mengaku belum pernah melihat fenomena seperti yang ada dalam video tersebut.

"Ini bukan fenomena optik biasa yang sering kita lihat," kata Grant Perry, ilmuwan atmosfer dari University of Wisconsin. "Saya bertanya-tanya sendiri, apakah ini disebabkan lensanya. Namun, jika itu yang terjadi gambar akan ikut bergerak jika kamera bergerak," kata Perry. "Tapi itu tidak terjadi."

Dalam hal optik, ia mengatakan," Anda bisa mengasumsikan ada partikel es atau sesuatu di atmosfer yang selaras sedemikian rupa sehingga membiaskan Matahari pada sudut yang sangat kecil, tapi hanya ke satu arah."

Beberapa efek optik atmosfer pernah dijelaskan secara sains sebelumnya seperi, sun dog, fatamorgana senja (sunset mirages), pilar matahari (sun pillars), dan halo Matahari. Namun apa penampakan dalam video itu tidak masuk dalam definisi apapun. "Ini sangat menarik," kata Kaler.