Showing posts with label dirgantara. Show all posts
Showing posts with label dirgantara. Show all posts

Pesawat Jet Honda Sukses Mengudara

Proyek pesawat terbang pertama Honda sukses dengan mengudaranya Honda Jet pada tanggal 21 Desember 2010 di Pusat Fasilitas Honda Aircraft Company di dalam Bandara Internasional Piedmont Triad, Greensboro, Negara Bagian North Carolina, Amerika Serikat. Penerbangan ini merupakan penerbangan resmi pertama Honda Jet di bawah komando Federal Aviation Administration, badan penerbangan Departemen Trasportasi Amerika Serikat.

Dalam acara peluncuran tersebut, pesawat jet Honda mengudara selama 51 menit. Dari hasil tes telemetri, pesawat ini lolos uji tes standar keamanan yang berlaku dan juga berhasil menampilkan performa yang baik. Kecepatan maksimal yang mampu dicapai oleh pesawat ini adalah 420 knot atau setara dengan 483 mph. Honda Jet juga mampu mencapai ketinggian maksimal 43.000 kaki.

President & CEO Honda Aircraft Company, Michimasa Fujino sangat lega karena seluruh rangkaian tes berada di bawah pengawasan ketat dari FAA, terlebih hasil tes berjalan dengan baik.Dengan hasil tes ini, Honda akan memulai proses produksi pesawat jet pertamanya. Fujino juga menambahkan bahwa akan terus memberikan segenap kemampuan demi memberikan kepuasan yang tertinggi kepada konsumen sesuai dengan salah satu filosofi Honda.

Seiring dengan dimulainya keterlibatan Honda dalam industri pesawat terbang, langkah selanjutnya yang akan diambil oleh Honda adalah memperluas fasilitas pabrik di Greensboro seluas 872.000 meter persegi untuk digunakan dalam proses produksi bagian interior pesawatnya. Honda Aircraft Company juga akan menambah personilnya demi kelangsungan proses produksi pada awal tahun 2011. Proses perakitan bagian eksterior pesawat akan mulai digarap juga dan ditargetkan akan mulai dijual kepada konsumen pada kuartal ketiga di tahun 2012 mendatang.(Tribunnews.com)

C919, Bakal Jadi Pesaing Boeing 737 dan Airbus A320


Beberapa Bulan terakhir, dua produsen utama pesawat jet komersil mengalami masalah. A380, pesawat mutakhir di jajaran Airbus mengalami masalah di Singapura setelah terjadi ledakan di mesinnya saat mengudara.
Setelah itu, Boeing 787 Dreamliner yang sedang diuji coba mendarat darurat karena asap mengepul di kabin.

Ternyata, tantangan yang lebih besar bagi kedua produsen tersebut bukanlah masalah di atas. Ancaman justru datang dari Commercial Aircraft Corp., sebuah perusahaan asal China akan memproduksi pula pesawat jet komersil yang berpotensi menjadi kompetitor berat Boeing dan Airbus. 

Kabarnya, C919 pesawat buatan perusahaan China yang mampu menampung 156 penumpang itu akan mengudara pada 2016 mendatang.

Meski bukan kompetitor Airbus A380 atau Boeing 787, C919 ini akan bersaing di segmen yang sama dengan Boeing 737 dan Airbus A320 yang cukup populer digunakan oleh berbagai maskapai penerbangan di seluruh dunia.

Seperti dikutip dari LA Times, China merupakan pasar transportasi udara yang memiliki pertumbuhan terpesat di dunia. Diperkirakan, dalam 20 tahun ke depan, negara tersebut membutuhkan lebih dari 4 ribu pesawat terbang.

Meski kini Boeing dan Airbus cukup berpengaruh di pasar China, bukan berarti mereka bisa tetap berkuasa saat C919 hadir nantinya. Apalagi saat memproduksi pesawat, China juga mendapat dukungan dari sejumlah perusahaan teknologi penerbangan terkemuka termasuk Honeywell, GE Aviation, Eaton Corp, Parker Aerospace, CFM International, dan sejumlah produsen lain.

“Setiap generasi memiliki tonggak sejarahnya sendiri,” kata Zhang Yanzhong, Chief Engineer Commercial Aircraft Corp. “Kami sudah menyelesaikan teknologi senjata nuklir, satelit, dan eksplorasi ruang angkasa. Kini waktunya memproduksi pesawat jet besar,” ucapnya.

Namun, keberhasilan C919 masih perlu dibuktikan. Sebelum ini, Jepang, Korea Selatan, dan Indonesia gagal dalam percobaan mereka memproduksi pesawat jet komersil berkapasitas besar. Tertunda-tundanya produksi Boeing 787 Dreamliner dan masalah di mesen milik Airbus A380 juga menunjukkan bahwa bahkan pemain terbesarpun mengalami kegagalan.

Akan tetapi, China tidaklah buta seputar perakitan dan pembuatan komponen untuk pesawat terbang. Sebagai informasi, perakitan akhir pesawat Airbus A320 dilakukan di Tianjin. Separuh dari 12 ribu pesawat milik Boeing, komponennya berasal dari China. Selain itu, sekitar 600 ribu tenaga kerja China bekerja di bidang kedirgantaraan. Jumlah itu sama banyak dengan jumlah pekerja dirgantara Amerika Serikat.

Pesawat dengan Tenaga Matahari Terbang 26 Jam

Setiap hari, maskapai penerbangan komersial dari seluruh dunia menghamburkan setengah juta ton karbon dioksida ke udara. Akan tetapi, kini ada secercah harapan. Sekelompok peneliti asal Swiss mengembangkan teknologi penerbangan sambil menjaga langit tetap bersih.

Solar Impulse, pesawat terbang bertenaga matahari yang dibuat tim peneliti itu sanggup terbang dari landasan dan tidak mendarat hingga lebih dari satu hari.
 

Pesawat tenaga matahari tanpa awak memang sudah hadir sejak sekitar tahun 1980-an. Akan tetapi, penerbangan yang Solar Impulse jalani dilakukan sambil mengangkut seorang pilot, yakni Andre Borschberg, salah satu pimpinan proyek penelitian tersebut.


Penerbangan itu, seperti dikutip dari Discovermagazine, 20 Desember 2010, dimungkinkan setelah peneliti memasang 12 ribu sel photovoltaic di ekor pesawat dan di sayap yang panjangnya mencapai 64 meter.

Sel photovoltaic itu mengirimkan energi ekstra ke baterai di siang hari dan ternyata sanggup memasok daya bagi empat baling-baling yang ada untuk tetap bekerja di malam hari.

Secara total, Borschberg berhasil menerbangkan pesawat bertenaga mataharinya itu selama 26 jam non stop tanpa sedikitpun menggunakan bahan bakar minyak.

Meski demikian, saat ini teknologi pesawat bertenaga matahari belum dapat menggantikan pesawat jet komersial. Sebagai informasi, Solar Impulse hanya mampu terbang dengan kecepatan rata-rata 24 mil per jam atau sekitar 38 kilometer per jam. Kecepatan terbang ini kurang lebih sama dengan kecepatan maksimal lari manusia.(Vivanews.com)

Eksperimen NASA Kembangkan Pesawat Hipersonik

Pesawat Hipersonik
NASA berencana menganggarkan US$5 juta atau sekitar Rp44 miliar per tahun dalam jangka tiga tahun ke depan untuk mengembangkan kendaraan hipersonik yang bisa terbang hingga 5 kali kecepatan suara.

Jika pesawat tersebut digunakan di penerbangan komersial, maka ia tak lagi perlu 21 jam untuk menempuh perjalanan antara New York dan Sydney. Cukup 2 jam saja. Selain itu kabarnya, teknologi tersebut nantinya akan bisa diimplementasikan pada pesawat komersil.

Namun demikian, tujuan utama proyek ini adalah untuk mencari cara bagaimana manusia bisa pergi ke ruang angkasa dan ke planet seperti Mars tanpa menggunakan roket.


Sebagai ganti roket, kendaraan itu akan menggunakan mesin yang memanfaatkan udara, seperti layaknya pesawat terbang komersial. Meski penerbangan hipersonik pernah diraih beberapa kali sebelumnya, pendekatan ini merupakan teknologi baru. Pesawat akan mampu take off dan landing layaknya pesawat penumpang, tetapi dengan tenaga yang lebih besar.

Menurut proposal NASA yang dikutip dari TG Daily,  pesawat tersebut nantinya harus dapat digunakan berulang kali. Untuk itu, material baru perlu dikembangkan sehingga dapat mengatasi temperatur yang sangat tinggi.

Disebutkan, masalah utama yang menjadi hambatan dalam mengembangkan pesawat hipersonik adalah overheat. Dan berhubung pesawat akan terbang dan mendarat seperti layaknya pesawat biasa, peralihan dari kecepatan biasa ke kecepatan hipersonik dilakukan setelah pesawat meninggalkan atmosfir. Untuk itu, kontrol dan manajemen energi sangatlah penting.

Sebagai informasi, pesawat hipersonik tercepat saat ini adalah X51-A Waverider yang juga dikembangkan NASA. Pesawat yang mengudara dengan bantuan pesawat B-52 bomber ini mampu mencapai kecepatan Mach 6 (sekitar 7.350 kilometer per jam) selama sekitar 3 menit.

Selain itu, NASA juga punya X43-A, pesawat hipersonik yang mampu terbang dengan kecepatan nyaris 7 kali kecepatan suara (kecepatan suara mencapai 1.236 kilometer per jam di suhu 20 derajat Celcius).

Artikel lain yang mungkin Anda sukai :
Mars Rover Curiosity, Robot Paling Canggih Keingintahuan Manusia Mendarat di MarsNASA akan meluncurkan Satelit berbasis Android dengan hardware Nexus akhir tahun iniProject Super Komputer Milik NASANASA: Film Kiamat '2012' Merupakan Pornografi BencanaIlmuwan: Penelitian NASA Salah Mengenai Bakteri yang Hidup Dengan ArsenikNASA, Foto Terbaru Permukaan BulanTeori Relativitas Einstein yang Dibuktikan NASARobonaut R2 Robot NASA Dibuat Selama 15 TahunNASA : Gambar Spektakuler Matahari dalam 3 DimensiSpace Pictures This Week: Bow Shock, Mars, Jupiter, Moon, MoreGreenland & Antartika Mencair Melaju CepatPlanet Kepler-22b “Bumi Baru" Yang Berpotensi Mendukung KehidupanCitra Jakarta Tahun 1976 dan 2004 Versi NASA