Showing posts with label antariksa. Show all posts
Showing posts with label antariksa. Show all posts

Pesawat Luar Angkasa Skylon


Setelah 30 tahun masa pengembangan, akhirnya pesawat luar angkasa Skylon semakin dekat kepada peluncurannya. 
Skylon adalah pesawat luar angkasa tanpa pilot yang bisa meluncur ke orbit rendah bumi setelah lepas landas di landasan udara konvensional.
Pesawat ini bisa memuat barang, digunakan berulang-ulang, dan tidak membutuhkan instalasi peluncuran, roket pengangkut, dan bahan bakar eksternal yang biasanya membutuhkan biaya yang mahal.
Ia menggunakan mesin hybrid SABRE yang memakai bahan bakar kombinasi hidrogen cair dengan oksigen dari atmosfer, pada ketinggian hingga 26 kilometer dari permukaan bumi, dengan kecepatan hingga Mach 5. 
Pesawat ini ditujukan untuk memangkas biaya yang biasanya dibutuhkan oleh penerbangan antariksa komersial konvensional, dengan kemampuan angkut hingga 15 ton, termasuk satelit, peralatan-peralatan, bahkan awak manusia ke orbit.
Saat pesawat berhasil menyelesaikan misinya, ia akan kembali masuk ke atmosfer bumi dan kembali ke pangkalan seperti halnya pesawat biasa mendarat di landasan yang sama. Ini membuatnya menjadi pesawat tercepat yang mampu kembali ke bumi.
Kini, pesawat yang masih terus dikembangkan oleh Reaction Engines - perusahaan yang bermarkas di Oxfordshire Inggris, telah mendapatkan persetujuan dari European Space Authority (ESA). 
Tidak ada hal yang kritis yang teridentifikasi, baik dari pesawat Skylon maupun mesin SABRE, yang diblok untuk pengembangan lebih lanjut, menurut laporan panel ESA, seperti dikutip dari situs Universetoday.
Badan Antariksa Inggris mengatakan, Reaction Engines akan mendemonstrasikan teknologi pendinginan mesin mereka, musim panas tahun ini.

NASA: Citra Terakhir Bumi di Tahun 2010

Satelit Geostationary Operational Environmental Satellite (GOES-13)  milik Badan Antariksa Ameriksa Serikat (NASA) mengabadikan foto terakhir Amerika Utara dan Selatan di tahun 2010, ketika dunia menanti datangnya tahun baru 2011.

GOES-13 menangkap citra Bumi dalam piringan penuh pada Kamis 30 Desember 2010. Gambar menakjubkan ini menunjukkan awan menutupi area bertekanan redah di atas Midwestern, AS dan Rocky Mountains, Colorado.


Proyek GOES NASA, yang berada di Pusat Luar Angkasa Goddard milik NASA, disibukkan dengan cuaca liar yang terjadi sepanjang 2010 ini.

GOES-13 bertugas memonitor bagian selatan AS, Samudera Atlantik, Teluk Meksiko, dan Karibia. Sementara, GOES-11 mengawasi kondisi cuaca di bagian barat AS dan Samudra Pasifik Timur.

Pada 2010. Satelit GOES sibuk menyediakan gambar dan animasi sistem udara, termasuk siklon tropis yang menyebabkan badai salju, banjir, dan angin kencang.

Seperti diketahui, cuaca ekstrim melanda dunia di akhir 2010 ini. Badai salju menghantam Eropa dan Amerika Serikat, bandara lumpuh, akibatnya sejumlah maskapai membatalkan penerbangan.

Anomali cuaca terjadi di Australia. Sejumlah wilayah di Australia, seperti di New South Wales dan Victoria, umumnya menikmati musim panas di akhir tahun. Namun, yang terjadi justru hujan salju.

Hujan terus-menerus bahkan menenggelamkan setengah dari negara bagian Queensland, Australia, 200.000 orang dipaksa mengungsi. Queensland dinyatakan sebagai daerah bencana.(vivanews.com)

R136a1, Bintang Terbesar Berukuran 265 Kali Lebih Besar Dari Matahari

Sekelompok astronom asal Inggris berhasil mendeteksi sebuah bintang yang paling besar yang pernah dilihat manusia. Bintang raksasa itu memiliki ukuran 265 kali lipat lebih besar dibanding Matahari kita.

Saking besarnya, bintang itu dapat mengubah teori tentang bagaimana proses lahirnya bintang. Bahkan diperkirakan, saat lahir ia mencapai ukuran 320 kali Matahari.

Sebelum ini, menggunakan model yang digunakan oleh peneliti, diketahui bahwa ukuran maksimal bintang adalah 150 kali lipat dibanding Matahari kita. Apapun yang berukuran di atas itu terlalu sulit untuk terbentuk menjadi bintang.


Namun, dikutip dari BBC, 25 Desember 2010, Paul Crowther, astronom asal University of Sheffield, Inggris, setalah mengamati gambar-gambar yang ditangkap oleh Very Large Telescope di Chile dan teleskop ruang angkasa Hubble, menemukan bintang yang melampaui ukuran maksimal itu.

Selain jauh lebih besar dibanding Matahari, R136a1, bintang yang berada di gugus dengan jarak 165 ribu tahun cahaya dari Bumi itu juga sama terangnya dengan 10 juta buah Matahari kita.

“Sebagai gambaran, perbandingan cahaya antara bintang ini dengan Matahari di tata surya kita adalah seperti membandingkan sinar Matahari dengan Bulan purnama,” kata Crowther.

Diperkirakan, suhu di permukaan bintang itu mencapai sekitar 50 ribu derajat Celsius, hampir delapan kali lebih panas dibanding Maharari.

Crowther menyebutkan, hal yang lebih penting dari penemuan bintang raksasa itu adalah memberikan keyakinan pada manusia bahwa kemungkinan besar masih ada bintang-bintang sangat raksasa seperti R136a1 di jagat raya.(vivanews)