Home » All posts
Perbedaan Layar LCD dan AMOLED
Seiring perkembangan multimedia dan teknologi ponsel, kini layar ponsel lebih variatif dan mempunyai ketajaman warna yang sangat kaya. Dahulu ketika ponsel masih berada pada era 2G, penggunaan layar cukup dengan layar monokromatik.
Kini kita akan sering melihat penggunaan layar bertipe LCD Amoled atau bahkan Retina Display pada ponsel pintar yang menyuguhkan kualitas gambar yang jernih dan tajam pada layar ponsel yang lebar.
Lantas apa sebenarnya perbedaan dari layar LCD dan AMOLED ?
Berikut ini perbedaan antara layar LCD dengan layar AMOLED yang sering digunakan pada smartphone saat ini.
LCD
Sesuai namanya, layar LCD atau Liquid Crystal Display menggunakan media kristal cair yang diselipkan diantara beberapa panel kaca atau material transparan lain. Layar LCD telah digunakan di berbagai macam perangkat selama berpuluh-puluh tahun, mulai dari monitor komputer, layar smartphone, sampai jam tangan.
Ketika dilihat dari jarak sangat dekat, tampak unit-unit pixel berwarna merah, hijau, dan biru yang menyusun tampilan gambar pada layar LCD.
Beberapa layar LCD menggunakan teknologi In-Plane Switching atau IPS untuk meningkatkan kualitas reproduksi warna dan sudut pandang optimal yang lebih luas. Layar "Retina Display" milik iPhone 4/4s misalnya, adalah layar LCD dengan teknologi IPS yang memiliki resolusi tinggi.
Layar LCD mampu mereproduksi warna dengan sangat realistik, tetapi memerlukan lampu penerang tambahan (backlight) karena tidak menghasilkan cahaya sendiri.
Beberapa perangkat populer yang menggunakan layar LCD: iPhone 4/4s, iPad, dan HTC One X
AMOLED
Teknologi layar AMOLED (Active Matrix Organic Light Emitting Diode) sebenarnya juga sudah ada sejak lama, sejarahnya membentang hingga ke dekade 50-an.
Belakangan, layar tipe ini ramai diterapkan di perangkat-perangkat gadget karena memiliki beberapa kelebihan dibanding LCD seperti tidak memerlukan lampu backlight dan memiliki tingkat kontras yang lebih tinggi.
AMOLED terbuat dari lapisan polimer organik tipis yang menyala ketika dialiri listrik. Karena konstruksinya yang sederhana, layar AMOLED bisa dibuat sangat tipis.
Kebanyakan layar AMOLED memiliki struktur pixel yang disebut "pentile display", di mana dua sub-pixel merah dan biru berukuran lebih besar dan ditempatkan diantara dua sub-pixel berwarna hijau yang berukuran normal. Dengan kemikian, susunan pixel-nya menjadi' Red-Green-Blue-Green (RGBG), bukan Red-Green-Blue seperti pada LCD.
Keuntungan dari "pentile display" adalah sebuah layar AMOLED bisa dibuat seterang layar konvensional dengan hanya sepertiga jumlah sub-pixel yang biasanya diperlukan.
Kekurangannya, dikarenakan oleh ukuran sub-pixel merah dan biru yang lebih besar, layar jadi terlihat "grainy" atau tampak seperti memiliki resolusi rendah, walau sebenarnya tidak demikian.
Layar AMOLED biasanya sulit dilihat di bawah pancaran cahaya matahari langsung, tetapi teknologi Super AMOLED Plus dari Samsung yang tidak menggunakan "pentile display" telah memberi peningkatan dalam hal ini.
Beberapa perangkat-perangkat populer yang menggunakan layar AMOLED: Samsung Galaxy S series, Nokia Lumia 900, and HTC One S.
Baik layar LCD maupun AMOLED memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Saat ini, kedua jenis layar sudah mampu menghasilkan tampilan berkualitas sangat tinggi. Kualitas tampilan pun bervariasi antar produk dan merk, walaupun menggunakan jenis layar yang sama.
Satu-satunya cara untuk menentukan jenis layar mana yang sesuai dengan selera adalah dengan memegang perangkat dan melihat sendiri tampilan layarnya. (source kompas.com)
Kamera Ponsel Masa Depan Bisa Tembus Dinding dan Baju
Para Peneliti dari University of Texas dikabarkan telah berhasil menciptakan teknologi yang memungkinkan kamera ponsel dapat membidik objek meski terhalang oleh dinding. Dr. Kenneth O yang memimpin penelitian tersebut menyatakan bahwa Dengan teknologi ini, kamera ponsel juga bisa memotret objek yang ada di balik kain, kayu, plastik, dan kertas.
Kamera ini bekerja dengan bantuan sebuah Chip yang bekerja di jaringan Terahertz (THz) yang membuat objek yang terhalang tembok atau benda lainnya bisa tertangkap. Jaringan Terahertz merupakan salah satu rangkaian panjang gelombang yang ada di antara gelombang mikro dan sinar infra merah.
Chip ini natinya akan di gunakan bersaman dengan chips CMOS karena harganya yang terjangkau dan banyak digunakan di berbagai produk sehari-hari, seperti komputer, ponsel pintar, TV definisi tinggi dan konsol game. Sehingga biyaya yang di keluarkan untuk mendapatkan cips ini menjadi cukup murah.
Namun, karena alasan privasi para pengguna dan agar tidak disalahgunakan, Dr. Kenneth O dan tim fokus mengembangkan perangkat tersebut untuk penggunaan dengan rentang jarak kurang dari empat inci. Mungkin kalau bisa digunakan untuk memotret tembus pandang jarak jauh, takut digunakan untuk hal-hal negatif.
Kamera ini bekerja dengan bantuan sebuah Chip yang bekerja di jaringan Terahertz (THz) yang membuat objek yang terhalang tembok atau benda lainnya bisa tertangkap. Jaringan Terahertz merupakan salah satu rangkaian panjang gelombang yang ada di antara gelombang mikro dan sinar infra merah.
Chip ini natinya akan di gunakan bersaman dengan chips CMOS karena harganya yang terjangkau dan banyak digunakan di berbagai produk sehari-hari, seperti komputer, ponsel pintar, TV definisi tinggi dan konsol game. Sehingga biyaya yang di keluarkan untuk mendapatkan cips ini menjadi cukup murah.
Namun, karena alasan privasi para pengguna dan agar tidak disalahgunakan, Dr. Kenneth O dan tim fokus mengembangkan perangkat tersebut untuk penggunaan dengan rentang jarak kurang dari empat inci. Mungkin kalau bisa digunakan untuk memotret tembus pandang jarak jauh, takut digunakan untuk hal-hal negatif.
Main Basket Ball di Google Doodle
Sudah coba buka Google dari komputer kamu? logo google hari ini bertema Basket Ball, dan ternyata ini bisa dimainkan loh. Lumayan seru dan asyik permainannya. Ayo mainkan, seberapa banyak kamu bisa memasukkan bola ke keranjang....lebih seru lagi seandainya Google memberikan hadiah buat yang mendapat skor tertinggi.......hehehe......
Beli Listrik Pakai Koin di SPLU-Stasiun Pengisian Listrik Umum
Untuk mendukung rencana pemerintah mengembangkan kendaraan berenergi listrik, PT PLN (Persero) menyiapkan 24 Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU) yang dinyalakan dengan koin. Dalam 15 menit, pengguna SPLU ini bisa memperoleh listrik sebesar 5.500 VA cukup dengan koin Rp 500.
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) meresmikan sekaligus pemanfaatan perdana Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU) pertama di Indonesia. SPLU ini mampu menyalurkan listrik sampai dengan 32 A atau 7040 VA guna memenuhi kebutuhan salah satunya mobil listrik ke depannya.
Untuk tahap pertama ini, akan dibuat 24 SPLU di Jakarta dulu. Saat ini disetting untuk 5500 VA per 15 menit dengan koin 500 rupiah. SPLU koin ini bisa menggunakan koin Rp 1000 untuk 30 menit, Rp 200 untuk 6 menit, dan Rp 100 untuk 3 menit masa pengisian.
Ke depannya, SPLU-PLN ini akan dikembangkan lebih lanjut, khususnya terkait dengan sistem pembayaran dari koin menjadi uang kertas atau elektronik.
Untuk pembuatan satu SPLU dibutuhkan anggaran kurang dari Rp 5 juta. Tahap awal, ke-24 SPLU ini akan diletakkan pada sekitar 10 titik, seperti di Kantor Kementerian BUMN sebanyak 2 buah, Kantor Kementerian ESDM sebanyak 2 buah, Kantor Dirjen Ketenagalistrikan sebanyak 1 buah, Kantor PLN Bulungan sebanyak 1 buah, Kantor PLN Mampang sebanyak 1 buah, Kantor PLN Ciputat sebanyak 1 buah, Kantor PLN Gambir, Kantor PLN Tanjung Priok, Kantor PLN Lenteng Agung, dan Kantor PLN Pasar Minggu. Jadi nanti ditambah lagi sesuai kebutuhan.
Nantinya, pihak PLN akan bekerjasama dengan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang memproduksi sepeda listrik sehingga di tiap sekolah yang menggunakan kendaraan listrik ini memiliki SPLU.
PLN mentriger supaya SMK lebih produktf lagi karena kebutuhan sepeda, motor, mobil listrik. Dengan adanya sepeda listrik dibuat di Indonesia, masyarakat tergerak mengganti kendaraannya yang berbahan bakar minyak.(http://finance.detik.com, http://bisnis.news.viva.co.id)
Pengetahuan dan Filsafat
Pada tahun 1845, J.F. Ferrier menetapkan dua cabang filsafat, yaitu ontologi dan epistemologi. Yang pertama mengkaji wujud, hakikat dan metafisika, sedangkan yang kedua mengkaji secara sistematik sifat, sumber dan validitas pengetahuan. Dengan kata lain, secara sederhana dapat dikatakan bahwa jika ontologi mengkaji sesuatu, maka epistemologi mengulas cara pengkajiannya. Menurut Mulyadhi Kartanegara, ada dua pertanyaan yang tak pernah bisa dilepaskan dari epistemologi, yaitu: (1) apa yang dapat diketahui, dan (2) bagaimana mengetahuinya.
Mungkin banyak orang yang tidak percaya bahwa dalam perdebatan dalam kajian filsafat mengenai apa yang dapat diketahui manusia (atau apakah manusia bisa mengetahui) begitu seru dan telah melahirkan begitu banyak teori. Kalau mau berpikir sederhana, tentu saja manusia bisa mengetahui. Selain akal menjadi kehilangan makna, kita pun akan mulai mempertanyakan segala hal yang sudah kita ketahui dan maknai, terutama sekali hakikat diri dan hidup kita ini.
Jika mempertanyakan mengenai hal-hal yang bisa diketahui manusia, tentu kita membicarakan masalah kebenaran, karena pengetahuan manusia memang tujuannya untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Orang yang tak bisa membedakan antara pedal rem dan pedal gas tidak bisa dikatakan memiliki pengetahuan tentang kendaraan. Begitu juga orang yang tak tahu cara menggunakan stetoskop tentu sulit untuk bisa dipercaya sebagai dokter. Oleh karena itu, tema “kebenaran” menjadi isu yang sangat sentral dalam filsafat. Apa itu kebenaran? Bagaimana menentukan kebenaran? Semua pertanyaan berkembang, tapi pangkalnya adalah: apakah kebenaran itu ada?
Socrates, Plato dan Aristoteles, misalnya, yang mewakili arus pemikiran Yunani kuno, juga telah berbenturan dengan masalah kebenaran ini. Kalau kebenaran itu mutlak, dan semua orang mengetahuinya, tentu tak ada manusia yang berdebat. Pada kenyataannya, perdebatan manusia itu sama tuanya dengan usia peradaban manusia. Berdebat sekuat apa pun, seilmiah apa pun, akan ada saja perbedaan pendapat. Kebanyakan debat malah hanya menghasilkan ‘kesepakatan untuk tidak sepakat’. Oleh karena itu, ketiga tokoh ini berpendapat bahwa kebenaran itu ada yang relatif, namun mereka juga tak menampik adanya kebenaran yang berlaku umum secara mutlak.
Protagoras yang mewakili kaum Sophist memiliki pemikiran yang lain lagi. Pemikir yang satu ini termasyhur karena kata-katanya: “Man is the measure of all things.” (manusia adalah ukuran bagi segala sesuatunya). Dengan kata-kata ini, Protagoras hendak mengatakan bahwa ukuran bagi kebenaran adalah manusia itu sendiri. Artinya, manusia tak perlu lagi ‘mencari’ kebenaran, karena sebenarnya manusia itulah yang menentukan kebenarannya sendiri.
Pemikiran kaum Sophist masih dianut orang hingga kini dan melahirkan arus pemikiran yang disebut “relativisme”. Dalam pola pikir yang relativistik ini, semua kebenaran dianggap relatif tanpa kecuali. Karena kebenaran ditentukan oleh manusia, dan yang dimaksud “manusia” adalah seluruh spesies Homo Sapiens tanpa kecuali, maka kebenaran menjadi ‘hak privat’ dari masing-masing individu, dan sifatnya menjadi relatif seluruhnya.
Kaum beragama yang coba-coba bersikap relativistik berusaha keras mencarikan pembenarannya, kalau perlu dari kitab sucinya masing-masing. Tembok tinggi yang menghadang mereka adalah klaim kebenaran dari agamanya sendiri. Setiap agama mengaku sebagai yang paling benar. Bagaimana menyelaraskannya dengan prinsip relativisme? Untuk itulah dibangun konsep pluralisme dengan berbagai variannya. Kebenaran mutlak itu ada, hanya saja yang dipahami oleh manusia (dan agamanya masing-masing) adalah kebenaran-kebenaran yang sifatnya relatif. Wahyu Tuhan itu adalah kebenaran mutlak, namun dipahami oleh akal manusia secara terbatas, dan karenanya, pemahaman manusia akan senantiasa bersifat relatif. Mereka pun menarik garis tegas antara “agama” dan “pemahaman agama”. Ironisnya, semuanya mereka masukkan dalam kategori yang kedua, sehingga yang pertama menjadi benda abstrak yang tak pernah dikenal orang.
Relativisme juga telah ‘memakan korban’ yang lain. John Milton, misalnya, pernah berseteru dengan pemerintah negerinya sendiri lantaran sebuah brosur buatannya yang dianggap terlalu provokatif. Menurut Milton, isi brosurnya adalah semata-mata pendapatnya pribadi, sedangkan pendapat individu yang berbeda-beda adalah modal bagi kesatuan bangsa. Untuk menggali kebenaran, harus dengan merujuk pada pendapat banyak orang, bukan segelintir orang. Milton pun menjelaskan bahwa yang akan menentukan kebenaran adalah pendapat mayoritas. Namun meski mayoritas telah bersuara, masing-masing individu dibebaskan untuk menemukan kebenarannya sendiri-sendiri. Akan tetapi, Milton juga percaya bahwa jika fakta-fakta dibiarkan telanjang, maka kebenaran akan mengalahkan kebatilan dalam sebuah kompetisi terbuka. Tentu saja, dilema John Milton ini membuat kita bertanya-tanya; apakah kebenaran itu ditentukan oleh pendapat individu, pendapat mayoritas, atau hanya bisa ditemukan dari sebuah kompetisi terbuka? Perlu diberi catatan di sini bahwa pilihan terakhir yang melibatkan kompetisi terbuka pada hakikatnya sama saja dengan mengatakan bahwa kebenaran mutlak itu tidak ada, karena sebenarnya kompetisi opini itu selalu terbuka. Dengan demikian, kebenaran pun tak pernah selesai dirumuskan.
Kebingungan yang dihasilkan oleh ideologi relativisme ini kemudian melahirkan pola pikir skeptisisme yang meragukan kebenaran dan membenarkan keraguan. Bagi mereka, keraguan adalah hal yang wajar muncul di awal setiap kajian, dan keraguan identik dengan sikap kritis. Oleh karena itu, orang-orang yang begitu yakin pada sesuatu hal (termasuk iman pada agamanya sendiri) akan dianggap jumud, tidak kritis, tidak progresif, tidak kreatif dan tidak intelek. Sebaliknya, mereka yang senantiasa ragu justru dianggap cerdas dan ilmiah. Begitu hebatnya pengaruh skeptisisme ini sehingga ada seorang profesor terkenal di Barat yang selalu mengawali jawabannya dengan kata-kata “I don’t know”. Tentu saja, situasi menjadi canggung ketika seorang cendekiawan Muslim menghampirinya dan berkata, “So what DO you know, professor?”.
Di jaman edan ini, modern saja tidak cukup. Maka manusia pun mulai meninggalkan modernisme dan mengusung aliran pemikiran baru yang disebutnya post-modernisme. Kaum ‘posmo’ ini melangkah lebih jauh dari skeptisisme, yang sebenarnya masih mengakui adanya kebenaran, namun selalu meragukan pengetahuan manusia akan kebenaran itu. Menurut aliran post-modernisme ini, kebenaran itu tidak ada, sebagaimana kebatilan itu pun tidak ada. Oleh karena itu, pembicaraan tentang kebenaran menjadi suatu hal yang tidak relevan di Barat sekarang ini. Mereka yang membicarakan soal kebenaran akan dianggap ‘sok suci’ dan semacamnya. Kalau berani bicara kebenaran, pasti akan dituduh menebar klaim kebenaran. Tidak boleh ada yang merasa benar, karena hal yang demikian itu dianggap tidak toleran. Kebenaran itu sendiri terlalu diskriminatif, karena mendiskriminasi hal-hal yang disebut sebagai “kebatilan”. Mungkin karena kekhawatiran yang sangat besar akan sikap diskriminatif inilah maka seorang pentolan Islam liberal di Indonesia menyatakan keinginannya untuk ‘menyerap energi kesalehan dan energi kemaksiatan sekaligus’. Tak ada yang ingin dimasukkan dalam kelompok ‘kebatilan’; semuanya ingin dianggap benar. Karena semuanya ingin disebut benar, maka istilah “kebenaran” itu menjadi tak bermakna lagi.
Bagi seorang Muslim, masalah tentang adanya kebenaran mutlak dan dimungkinkannya pengetahuan tentang kebenaran mutlak itu bagi manusia sudah terjawab tuntas. Jika kita membuka lembaran awal mushhaf, kita akan temukan sebuah ayat yang menuntun kita untuk memohon ditunjukkannya jalan yang lurus: ihdina ash-shiraath al-mustaqiim. Di lembaran berikutnya, kita akan langsung temukan jawaban Allah SWT: dzaalika al-kitaabu laa rayba fiihi, hudan li al-muttaqiin. Kebenaran atau jalan yang lurus itu ada. Kita memohon kepada Allah, karena sumber kebenaran itu adalah dari Allah. Maka Allah pun berkenan menurunkan Kitab Suci Al-Qur’an yang tiada diperdebatkan lagi kebenarannya. Yang kita mohonkan adalah pengetahuan untuk mengenali kebenaran, dan yang Allah turunkan adalah petunjuk untuk mendapatkan pengetahuan tersebut. Jadi, kebenaran itu ada, manusia dapat memahaminya, dan kebenaran itu bersumber dari Allah SWT. Jelas, sederhana dan masuk akal!
Source: http://fimadani.com
Mungkin banyak orang yang tidak percaya bahwa dalam perdebatan dalam kajian filsafat mengenai apa yang dapat diketahui manusia (atau apakah manusia bisa mengetahui) begitu seru dan telah melahirkan begitu banyak teori. Kalau mau berpikir sederhana, tentu saja manusia bisa mengetahui. Selain akal menjadi kehilangan makna, kita pun akan mulai mempertanyakan segala hal yang sudah kita ketahui dan maknai, terutama sekali hakikat diri dan hidup kita ini.
Jika mempertanyakan mengenai hal-hal yang bisa diketahui manusia, tentu kita membicarakan masalah kebenaran, karena pengetahuan manusia memang tujuannya untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Orang yang tak bisa membedakan antara pedal rem dan pedal gas tidak bisa dikatakan memiliki pengetahuan tentang kendaraan. Begitu juga orang yang tak tahu cara menggunakan stetoskop tentu sulit untuk bisa dipercaya sebagai dokter. Oleh karena itu, tema “kebenaran” menjadi isu yang sangat sentral dalam filsafat. Apa itu kebenaran? Bagaimana menentukan kebenaran? Semua pertanyaan berkembang, tapi pangkalnya adalah: apakah kebenaran itu ada?
Socrates, Plato dan Aristoteles, misalnya, yang mewakili arus pemikiran Yunani kuno, juga telah berbenturan dengan masalah kebenaran ini. Kalau kebenaran itu mutlak, dan semua orang mengetahuinya, tentu tak ada manusia yang berdebat. Pada kenyataannya, perdebatan manusia itu sama tuanya dengan usia peradaban manusia. Berdebat sekuat apa pun, seilmiah apa pun, akan ada saja perbedaan pendapat. Kebanyakan debat malah hanya menghasilkan ‘kesepakatan untuk tidak sepakat’. Oleh karena itu, ketiga tokoh ini berpendapat bahwa kebenaran itu ada yang relatif, namun mereka juga tak menampik adanya kebenaran yang berlaku umum secara mutlak.
Protagoras yang mewakili kaum Sophist memiliki pemikiran yang lain lagi. Pemikir yang satu ini termasyhur karena kata-katanya: “Man is the measure of all things.” (manusia adalah ukuran bagi segala sesuatunya). Dengan kata-kata ini, Protagoras hendak mengatakan bahwa ukuran bagi kebenaran adalah manusia itu sendiri. Artinya, manusia tak perlu lagi ‘mencari’ kebenaran, karena sebenarnya manusia itulah yang menentukan kebenarannya sendiri.
Pemikiran kaum Sophist masih dianut orang hingga kini dan melahirkan arus pemikiran yang disebut “relativisme”. Dalam pola pikir yang relativistik ini, semua kebenaran dianggap relatif tanpa kecuali. Karena kebenaran ditentukan oleh manusia, dan yang dimaksud “manusia” adalah seluruh spesies Homo Sapiens tanpa kecuali, maka kebenaran menjadi ‘hak privat’ dari masing-masing individu, dan sifatnya menjadi relatif seluruhnya.
Kaum beragama yang coba-coba bersikap relativistik berusaha keras mencarikan pembenarannya, kalau perlu dari kitab sucinya masing-masing. Tembok tinggi yang menghadang mereka adalah klaim kebenaran dari agamanya sendiri. Setiap agama mengaku sebagai yang paling benar. Bagaimana menyelaraskannya dengan prinsip relativisme? Untuk itulah dibangun konsep pluralisme dengan berbagai variannya. Kebenaran mutlak itu ada, hanya saja yang dipahami oleh manusia (dan agamanya masing-masing) adalah kebenaran-kebenaran yang sifatnya relatif. Wahyu Tuhan itu adalah kebenaran mutlak, namun dipahami oleh akal manusia secara terbatas, dan karenanya, pemahaman manusia akan senantiasa bersifat relatif. Mereka pun menarik garis tegas antara “agama” dan “pemahaman agama”. Ironisnya, semuanya mereka masukkan dalam kategori yang kedua, sehingga yang pertama menjadi benda abstrak yang tak pernah dikenal orang.
Relativisme juga telah ‘memakan korban’ yang lain. John Milton, misalnya, pernah berseteru dengan pemerintah negerinya sendiri lantaran sebuah brosur buatannya yang dianggap terlalu provokatif. Menurut Milton, isi brosurnya adalah semata-mata pendapatnya pribadi, sedangkan pendapat individu yang berbeda-beda adalah modal bagi kesatuan bangsa. Untuk menggali kebenaran, harus dengan merujuk pada pendapat banyak orang, bukan segelintir orang. Milton pun menjelaskan bahwa yang akan menentukan kebenaran adalah pendapat mayoritas. Namun meski mayoritas telah bersuara, masing-masing individu dibebaskan untuk menemukan kebenarannya sendiri-sendiri. Akan tetapi, Milton juga percaya bahwa jika fakta-fakta dibiarkan telanjang, maka kebenaran akan mengalahkan kebatilan dalam sebuah kompetisi terbuka. Tentu saja, dilema John Milton ini membuat kita bertanya-tanya; apakah kebenaran itu ditentukan oleh pendapat individu, pendapat mayoritas, atau hanya bisa ditemukan dari sebuah kompetisi terbuka? Perlu diberi catatan di sini bahwa pilihan terakhir yang melibatkan kompetisi terbuka pada hakikatnya sama saja dengan mengatakan bahwa kebenaran mutlak itu tidak ada, karena sebenarnya kompetisi opini itu selalu terbuka. Dengan demikian, kebenaran pun tak pernah selesai dirumuskan.
Kebingungan yang dihasilkan oleh ideologi relativisme ini kemudian melahirkan pola pikir skeptisisme yang meragukan kebenaran dan membenarkan keraguan. Bagi mereka, keraguan adalah hal yang wajar muncul di awal setiap kajian, dan keraguan identik dengan sikap kritis. Oleh karena itu, orang-orang yang begitu yakin pada sesuatu hal (termasuk iman pada agamanya sendiri) akan dianggap jumud, tidak kritis, tidak progresif, tidak kreatif dan tidak intelek. Sebaliknya, mereka yang senantiasa ragu justru dianggap cerdas dan ilmiah. Begitu hebatnya pengaruh skeptisisme ini sehingga ada seorang profesor terkenal di Barat yang selalu mengawali jawabannya dengan kata-kata “I don’t know”. Tentu saja, situasi menjadi canggung ketika seorang cendekiawan Muslim menghampirinya dan berkata, “So what DO you know, professor?”.
Di jaman edan ini, modern saja tidak cukup. Maka manusia pun mulai meninggalkan modernisme dan mengusung aliran pemikiran baru yang disebutnya post-modernisme. Kaum ‘posmo’ ini melangkah lebih jauh dari skeptisisme, yang sebenarnya masih mengakui adanya kebenaran, namun selalu meragukan pengetahuan manusia akan kebenaran itu. Menurut aliran post-modernisme ini, kebenaran itu tidak ada, sebagaimana kebatilan itu pun tidak ada. Oleh karena itu, pembicaraan tentang kebenaran menjadi suatu hal yang tidak relevan di Barat sekarang ini. Mereka yang membicarakan soal kebenaran akan dianggap ‘sok suci’ dan semacamnya. Kalau berani bicara kebenaran, pasti akan dituduh menebar klaim kebenaran. Tidak boleh ada yang merasa benar, karena hal yang demikian itu dianggap tidak toleran. Kebenaran itu sendiri terlalu diskriminatif, karena mendiskriminasi hal-hal yang disebut sebagai “kebatilan”. Mungkin karena kekhawatiran yang sangat besar akan sikap diskriminatif inilah maka seorang pentolan Islam liberal di Indonesia menyatakan keinginannya untuk ‘menyerap energi kesalehan dan energi kemaksiatan sekaligus’. Tak ada yang ingin dimasukkan dalam kelompok ‘kebatilan’; semuanya ingin dianggap benar. Karena semuanya ingin disebut benar, maka istilah “kebenaran” itu menjadi tak bermakna lagi.
Bagi seorang Muslim, masalah tentang adanya kebenaran mutlak dan dimungkinkannya pengetahuan tentang kebenaran mutlak itu bagi manusia sudah terjawab tuntas. Jika kita membuka lembaran awal mushhaf, kita akan temukan sebuah ayat yang menuntun kita untuk memohon ditunjukkannya jalan yang lurus: ihdina ash-shiraath al-mustaqiim. Di lembaran berikutnya, kita akan langsung temukan jawaban Allah SWT: dzaalika al-kitaabu laa rayba fiihi, hudan li al-muttaqiin. Kebenaran atau jalan yang lurus itu ada. Kita memohon kepada Allah, karena sumber kebenaran itu adalah dari Allah. Maka Allah pun berkenan menurunkan Kitab Suci Al-Qur’an yang tiada diperdebatkan lagi kebenarannya. Yang kita mohonkan adalah pengetahuan untuk mengenali kebenaran, dan yang Allah turunkan adalah petunjuk untuk mendapatkan pengetahuan tersebut. Jadi, kebenaran itu ada, manusia dapat memahaminya, dan kebenaran itu bersumber dari Allah SWT. Jelas, sederhana dan masuk akal!
Source: http://fimadani.com
Mars Rover Curiosity, Robot Paling Canggih Keingintahuan Manusia Mendarat di Mars
Mars rover Curiosity, Robot paling canggih NASA seharga $2.5 billion dollars telah mendarat di Planet Merah. Kendaraan ini tergantung oleh tali dari ransel roket, mendarat di Mars untuk mengakhiri penerbangan 36 minggu dan memulai penyelidikan dua tahun.
Mars Science Laboratory (MSL) pesawat ruang angkasa yang membawa Curiosity Rover berhasil dalam setiap langkah pendaratan paling kompleks yang pernah dicoba di Mars, termasuk pemutusan akhir dari tali kekang dan manuver dari ransel roket.
![]() |
| Foto pertama Curiosity |
Hari ini, roda Rasa ingin tahu telah mulai merintis jalan untuk jejak kaki manusia di Mars. Curiosity merupakan rover paling canggih yang pernah dibangun, sekarang di permukaan Planet Merah, di mana ia akan berusaha untuk menjawab pertanyaan kuno tentang apakah kehidupan pernah ada di Mars - atau jika planet ini dapat menopang kehidupan di masa depan. Bagi NASA, ini merupakan prestasi yang menakjubkan, yang dimungkinkan oleh sebuah tim ilmuwan dan insinyur dari seluruh dunia dan dipimpin oleh pria dan wanita luar biasa dari NASA dan Jet Propulsion Laboratory. Presiden Obama telah meletakkan visi yang berani untuk mengirim manusia ke Mars di pertengahan-2030, dan pendaratan kendaraan canggih ini menandai langkah signifikan terhadap pencapaian tujuan tersebut.
Huawei Ascend P1, Handphone Android Super Tipis Telah Hadir di Indonesia
Pada awal tahun 2012, Huawei memperkenalkan handphone yang dikenal sebagai salah satu handphone tertipis di dunia, yakni Huawei Ascend P1, yang mempunyai ukuran yang sangat tipis, yakni 7.69 milimeter. Dan kini, handphone tersebut hadir di Indonesa dengan harga Rp.4.299.000.
Handphone ini menggunakan OS Android Ice Cream Sandwich 4.0. Sementara pada bagian prosesor, ditanamkan prosesor dual core 1.5 GHz dan RAM sebesar 1GB serta dukungan memori internal sebesar 4GB. Disematkan kamera 8MP di bagian belakang yang dilengkapi dengan dual LED flash.
Pada bagian layar, handphone ini tampil dengan layar Super AMOLED berukuran 4.3 inci dengan resolusi 540×960 piksel dan sudah dilengkapi dengan lapisan pelindung Gorilla Glass.
Untuk memperkenalkan handphone ini, Huawei melakukan roadshow yang dilakukan di beberapa lokasi di Jakarta dan Surabaya. Berikut ini adalah lokasi roadshow Huawei Ascend P1:
Central Park Mall, Jakarta (3-5 Agustus 2012)
BRI Center Park, Jakarta (6-10 Agustus 2012)
Plaza Marina, Surabaya (10-12 Agustus 2012)
Sebagai tambahan, selama roadshow, Anda bisa memperoleh harga istimewa. Terutama bagi pemegang kartu BRI bisa mendapatkan hp ini dengan harga Rp.3.799.000. Selain itu, Anda juga bisa membeli handphone ini seharga Rp.4.099.000 dengan memakai kartu kredit BRI.
Handphone ini menggunakan OS Android Ice Cream Sandwich 4.0. Sementara pada bagian prosesor, ditanamkan prosesor dual core 1.5 GHz dan RAM sebesar 1GB serta dukungan memori internal sebesar 4GB. Disematkan kamera 8MP di bagian belakang yang dilengkapi dengan dual LED flash.
Pada bagian layar, handphone ini tampil dengan layar Super AMOLED berukuran 4.3 inci dengan resolusi 540×960 piksel dan sudah dilengkapi dengan lapisan pelindung Gorilla Glass.
Untuk memperkenalkan handphone ini, Huawei melakukan roadshow yang dilakukan di beberapa lokasi di Jakarta dan Surabaya. Berikut ini adalah lokasi roadshow Huawei Ascend P1:
Central Park Mall, Jakarta (3-5 Agustus 2012)
BRI Center Park, Jakarta (6-10 Agustus 2012)
Plaza Marina, Surabaya (10-12 Agustus 2012)
Sebagai tambahan, selama roadshow, Anda bisa memperoleh harga istimewa. Terutama bagi pemegang kartu BRI bisa mendapatkan hp ini dengan harga Rp.3.799.000. Selain itu, Anda juga bisa membeli handphone ini seharga Rp.4.099.000 dengan memakai kartu kredit BRI.
Subscribe to:
Posts (Atom)








