Showing posts with label filsafat. Show all posts
Showing posts with label filsafat. Show all posts

Generasi Intelektual Profetik Proyek Percontohan Kebangkitan Bangsa


Intelektual profetik adalah sebuah akronim. Pengabungan dari dua kata yang di serap dari bahasa inggris yakni kata intelectual (orang pandai, teknokrat, moralis) dan Prophet (nabi) dan diindonesiakan dengan intelektual profetik yang berarti orang pandai atau ilmuwan dan kenabian.

Namun itu hanya arti secara harfiah, dan arti sebenarnya yang di maksud di sini bukanlah seperti itu. Kusumaatmaja mengartikan intelektual profetik sebagai intelektual yang mampu menyelaraskan antar hasil penalaran akal dengan hasil penalaran wahyu. Dalam paradigma gerakan yang di susun oleh tim dari sebuah organisasi kepemudaan yakni KAMMI dikatakan bahwa intelektual profetik ialah sosok ilmuwan yang meletakkan dasar keimanan sebagai ruh atas penalaran akal dan penalaran wahyu.

Dengan kata lain sosok yang tercermin dalam seorang yang memposisikan diri sebagai intelektual profetik adalah dua karakter kepribadian yakni sosok intelektual yaitu sosok yang memiliki analisis keilmuan yang mapan, teknokrat dan moralis. Serta didalamnya ada sosok yang mencirikan kenabian. Dengan kata lain seorang yang memiliki konsep agama dalam menjalani kehidupannya. Segala sudut pandangnya terhadap persoalan dunia selalu berdasarkan pada ajaran nabi yakni wahyu tuhannnya atau perkataan serta perbuatan yang dicontohkan oleh nabinya. Dan sosok intelektual profetik adalah penggabungan dari karakter dua sosok tadi. Karakter individu yang dapat membedakan di mana batas akal yang tidak dapat diselesaikan oleh nalar dan kemampuan pengetahuan maka secara subtansial harus di kembalikan kepada esensi dasar ketuhanan bahwa alam semesta dan apapun yang terjadi di alam ini tidak lepas dari kontrol tuhannya sehingga mendorong ia selau bergerak dalam koridor tuhannya.

Konsep intelektual profetik adalah prototipe individu yang seharusnya menjadi sosok generasi manusia. Karena tiap karakter yang terbentuk berdasarkan pemahaman ilmu yang seimbang antara akal dan dan analisa pemikiran dengan konsep penalaran wahyu akan menghasilkan ilmuwan yang sanggup menjelaskan keterkaitan alam berdasarkan penalaran akal dengan analisa konsep ketuhanan sebagai landasan akidah yang membuat manusia tidak lupa akan kodratnya sebagai makhluk.

Keterkaitan antara aspek akal dan wahyu sangatlah penting. Hal ini di karenakan pada satu titik nadhirnya akal tidak akan dapat memecahkan seluk beluk alam ini dikarenakan keterbatasan manusia akan kemampuannya. Sehingga kesadaran akan konsep ketuhanan sangatlah berperan penting sehingga manusia dengan keterbatasan akalnya akan dapat mengelola akalnya sendiri sehingga tidak kehilangan akalnya atau gila karena sudah berada pada tahap kritis batas akhir dari kemampuan otak untuk mengolah segala konsep akal. Dan hal inilah yang menjelaskan bahwa sebenarnya manusia ini fana dan di butuhkan kekuatan kekal yang ghaib (di luar nalar akal) untuk mengotrol alam ini.

Intelektual profetik adalah ungkapan yang memiliki makna yang cukup dalam dan luas. Konsep intelektual profetik mencerminkan sebuah generasi yang hidup berdasarkan ilmu pengetahuan yang logis namun memiliki kesadaran yang tinggi akan aspek ghaib yang akan menghasilkan kualitas hidup yang harmoni, generasi cerdas yang sadar tidak semua beban harus dipikul sendiri. Sebuah kesadaran berarti bahwa akan tetap ada tempat berharap, mengantungkan diri dan menaruh semua beban. Ada konsep tentang ketuhanan sebagai rabb pemilik semesta alam dan tempat manusia mengantungkan dan menaruh harapannya. Tepatnya menjawab pertanyaan kepada siapa manusia harus berharap. Pemikiran seperti ini akan melahirkan generasi tangguh yang jauh dari sikap putus asa.

Sekilas konsep ketuhanan sekarang sudah menjadi sebuah pemikiran yang tidak terbantahkan. Tentang teori keagamaan bahwa tuhan itu ada dan manusia butuh kepada tuhannya. Dapat di ambil pelajaran ketika pasukan Rusia ketika masih Uni Soviet dengan sosialisme dan komunismenya menolak kehadiran tuhan dengan kata lain mereka bentuk lain dari ateisme. Para pasukan menolak bertempur karena tujuan mereka bertempur untuk mendapat kehidupan yang layak, sedangkan perang hanya akan membawa mereka kepada kematian. Dan pada akhirnya juga sistem tersebut hancur dan uni soviet runtuh.

Bukti esensi dasar manusia membutuhkan tempat bersandar yang mampu memberikan ketenangan yang tidak dapat di berikan oleh manusia. Dan dengan teknologi yang ada saat ini manusia semakin banyak melakukan penemuan yang mengarah kepada konsep keradaan tuhan itu nyata hanya saja ghaib bagi manusia. Banyak bukti sejarah yang ditemukan oleh manusia baik sejarah, ilmu terapan mengarah kepada kebenaran konsepsi nalar wahyu tentang tuhan. Begitu banyak peristiwa zaman dulu baru terungkap sekarang dengan keberadaan tenologi dan penemuan alam yang luar biasa yang sudah lebih dulu dikabarkan dalam Al-Quran, kitab suci umat Islam yang turunnya jauh sebelum manusia menemukannya. Jauh sebelum kemampuan teknologi mendukung seperti sekarang dan pada zaman tersebut konsep tentang keimananlah yang membuat mereka percaya dan terhindar dari beban pikiran yang tidak sanggup mereka tanggung.

Dalam sejarah kenabian Rasulullah Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam beliau memberitakan tentang Isra' Mi'raj namun banyak yang tidak percaya. Dan dengan konsep keimananlah Abu Bakar salah satu sahabat beliau dapat membenarkan dan akhirnya diikuti oleh yang lain bahwa mereka mendapat perintah shalat langsung dari langit dengan masa waktu satu malam. Tidak ada teknologi yang membuat orang percaya waktu itu. Dan dengan teknologi sekarang orang dapat membuat wahana berkecepatan berkali lipat dari kecepatan cahaya maka tidak ada alasan untuk tidak membenarkan peristiwa tersebut dan ini kembali menegaskan tentang konsep ketuhanan. Perkirakan saja kecepatan cahaya per detiknya berapa. Jarak matahari ke bumi saja di tempuh cahaya dalam waktu delapan menit.
Ketika manusia bisa menganalisa segala kekuasaan tuhan. Mampu membaca apa yang disebut dengan ayat-ayat kauniyah sebagai bukti adanya tuhan. Maka akan ada keinginan lain untuk mengungkap seluruh rahasia alam dan dengan ilham dari Allah Ta'ala maka akan lebih banyak lagi ayat kauniyah yang mampu kita baca dan bertambahlah keyakinan akan keberadaan tuhan.

Dengan kesadaran seperti itu maka seseorang akan lebih berhati-hati dalam bertindak dan akan berusaha untuk menggunakan ilmunya itu sesuai dengan koridor dari tuhannya. Akan muncul generasi-generasi yang akan berkerja sesuai dengan perintah dari tuhannya. Dan secara otomatis akan meninggalkan larangan tuhannya. Dan ketika itu terwujud maka terbentuklah kehidupan di mana kita akan hidup di dunia yang semua orang melakukan apa yang di sebut Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Kehidupan harmonis sesuai dengan cita-cita dari manusia.

Salah satu dari penyebab ketimpangan alam adalah ketidakpercayaan lagi pada konsep wahyu dari tuhan. Penolakan terhadap konsep ketuhanan berlangsung dengan masif dan memerlukan pencegahan. Berbagai kerusakan alam karena kemajuan teknologi dalam pemenuhan kebutuhan manusia dan terbentuknya jurang pemisah antara si miskin dikarenakan sistem pasar dan ekonomi sekarang merupakan efek dari pengejawantahan aspek ketuhanan yang dihilangkan pengaruhnya. Manusia sengaja menghilangkan aspek ketuhanan agar konsep tersebut tidak dapat menahannya dari berbuat hal yang merusak harmoni alam. Dan sebagian dari manusia lainnya tidak mampu untuk mengsinkronkan antara konsep nalar akal dan konsep nalar wahyu. Dan hal tersebut bisa terjadi dikarenakan pengejawantahan tentang pemisahan antara aspek kehidupan dengan aspek religius atau aspek ketuhanan sudah lama dibiarkan. Hal tersebutlah yang membuahkan ketimpangan dalam hidup ummat manusia tanpa mereka sadari.

Seorang ilmuwan terkenal penemu reaksi fusi yang sangat penting untuk proses pengolahan nuklir Albert Einstein pernah mengatakan, “Agama tanpa pengetahuan itu pincang, sedangkan pengetahuan tanpa agama itu buta”. Maka dapat diartikan jika seseorang memiliki konsep tentang nalar wahyu dengan landasan keimanan maka itu tidak terlalu buruk efeknya dan manusia masih dapat bertahan dengan apa adanya. Sedangkan penalaran akal tanpa tanpa dibarengi pemahaman konsep wahyu dan keimanan akan sangat berefek buruk. Hal itu ketika manusia terlena dengan kemajuan tanpa dibarengi landasan tanpa dilandasi dengan keimanan maka keserakahan tanpa memperhatikan keseimbanganlah yang akan terjadi. Karena keserakahan dan nafsu adalah fitrah sifat dasar manusia. Dan perlu dicatat Einstein mengatakan hal tersebut ketika ia menemukan bahwa partikel atom bergerak seimbang tanpa saling bertubrukan dan ia berpikir hal ini bukan sebuah kebetulan, harus ada yang mengaturnya. Ia membayangkan di perlukan rekayasa untuk membuat atom bertubrukan dan efeknya itu sangat dahsyat reaksi fusi sulit dihentikan. Siapa yang lupa bom atom yang meluluhkan kota Nagasaki dan Hiroshima. Ini sangat menegaskan bahwa konsep ketuhanan itu ada dan sangat penting untuk menguasai konsep penalaran wahyu agar ada keseimbangan dengan penalaran akal. Namun umat manusia sudah terlanjur membedakan antara konsep nalar akal dan nalar wahyu sehingga terlalu jauh tersesat dalam paradigma yang salah. Padahal antara keduanya itu berkaitan sangat erat.

Konsepsi nalar wahyu adalah hal yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. Hal itu dibuktikan selama manusia mempercayai apa yang disebut dengan masa depan dan harapan. Itu juga dikarenakan harapan dan masa depan itu merupakan hal yang ghaib (belum jelas kejadiannya). Belum tentu akan terjadi dan akan kita nikmati. Bisa saja kita mati besok harinya dan harapan hanya menjadi sekedar harapan dan tidak terwujud. Namun pada kenyataannya manusia percaya akan hal tersebut. Dan ini merupakan *sifat dasar juga dari manusia yang akan selalu membutuhkan tempat untuk berharap.*

Kesuksesan seorang trainer indonesia yang juga pengusaha Ari Ginanjar Agustian dengan konsep ESQ-nya merupakan sebuah kenyataan bahwa manusia butuh akan tempat untuk besandar. Dalam bukunya yang meraih best seller banyak membahas tentang konsep percaya akan kemampuan diri dan bantuan dari tuhan. Konsep Bismillah yang diejawantahkan olehnya itu mampu merubah cara pandang, hidup, serta motivasi hidup seseorang. Konsep Bismillah itu sendiri merupakan sebuah konsep yang berasal dari Al-Qur'an. Yakni kitab suci umat islam. Dan dengan arti dari bismillah itu sendiri yaitu dengan nama Allah. Dengan kata lain sama dengan menyebut dengan nama tuhannya bagi ummat Islam. Perlu diketahui bahwa bagi umat islam hanya ada satu tuhan yaitu Allah Ta'ala dan tiada sekutu baginya. Dialah tempat meminta dan tempat memohon petolongan.

Hal tersebut menegaskan bahwa konsep intelektual profetik merupak konsep yang ideal bagi generasi yang merindukan perubahan. Konsep gerakan intelektal profetik seperti yang dideklarasikan oleh KAMMI atau Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia, salah satu organisasi yang menaungi mahasiswa muslim tersebut merupakan suatu hal yang mesti bagi generasi yang gandrung akan keadilan dan menginginkan perubahan. Dan perlu ditegaskan konsep intelektual profetik bukanlah sebuah omong kosong belaka. Konsep intelektual profetik merupakan konsep pemikiran cerdas yang pantas disandangkan sebagai prototipe karakter yang bisa diadopsi sebagai konsep jati diri setiap manusia. Sebuah konsep yang bisa menjadi pilot project (proyek percontohan) bagi generasi penerus bangsa dalam menentukan identitas diri.

Ide penggabungan antara penalaran akal dengan penalaran wahyu merupakan ide yang sangat brilian. Ide luar biasa untuk keluar dari krisis ketimpangan alam. Suatu pemikiran tentang munculnya komunitas-komunitas dengan kapasitas keilmuwan yang mapan serta menguasai konsep penalaran wahyu yang akan menjadi penyeimbang kehidupan dan harmoni alam dari penafsiran nalar wahyu semata. Konsep gerakan intelektual profetik merupakan konsep yang harus dibudayakan agar muncul banyak individu-individu yang merupakan pionir perubahan ke depan. Dan dari individu-individu tersebut terbentuklah komunitas intelektual profetik. Yang pada tahap perkembangannya akan membentuk sebuah tatanan masyarakat cerdas. Tatanan masyarakat yang terdiri dari komunitas para intelektual profetik. Dan pada tahap puncaknya maka kejayaan gilang gemilang akan dicapai. Di mana sebuah tatanan dunia baru yang bebas dari ketimpangan dan konflik akan terbentuk.

Konsep intelektual profetik adalah adalah solusi atas permasalahan umat manusia pada saat ini. Dan pembudayaan terhadap pembentukan karakter intelektual profetik adalah sebuah proses percepatan menuju sebuah kejayaan. Dan sudah saatnya budaya konsumtif, korupsi, dan perbuatan lainnya ditinggalkan dan beralih kepada kebudayaan baru. Sebuah kebudayaan yang akan membawa indonesia kepada gerbang kemerdekaan yang sesungguhnya pada khususnya dan umat manusia secara umum.

Sumber: http://agusfajribinnajamuddin.blogspot.com/2010/07/intelektual-profetik-pilot-project.html

Pengetahuan dan Filsafat

Pengetahuan tentang Filsafat
Pada tahun 1845, J.F. Ferrier menetapkan dua cabang filsafat, yaitu ontologi dan epistemologi. Yang pertama mengkaji wujud, hakikat dan metafisika, sedangkan yang kedua mengkaji secara sistematik sifat, sumber dan validitas pengetahuan. Dengan kata lain, secara sederhana dapat dikatakan bahwa jika ontologi mengkaji sesuatu, maka epistemologi mengulas cara pengkajiannya. Menurut Mulyadhi Kartanegara, ada dua pertanyaan yang tak pernah bisa dilepaskan dari epistemologi, yaitu: (1) apa yang dapat diketahui, dan (2) bagaimana mengetahuinya.

Mungkin banyak orang yang tidak percaya bahwa dalam perdebatan dalam kajian filsafat mengenai apa yang dapat diketahui manusia (atau apakah manusia bisa mengetahui) begitu seru dan telah melahirkan begitu banyak teori. Kalau mau berpikir sederhana, tentu saja manusia bisa mengetahui. Selain akal menjadi kehilangan makna, kita pun akan mulai mempertanyakan segala hal yang sudah kita ketahui dan maknai, terutama sekali hakikat diri dan hidup kita ini.

Jika mempertanyakan mengenai hal-hal yang bisa diketahui manusia, tentu kita membicarakan masalah kebenaran, karena pengetahuan manusia memang tujuannya untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Orang yang tak bisa membedakan antara pedal rem dan pedal gas tidak bisa dikatakan memiliki pengetahuan tentang kendaraan. Begitu juga orang yang tak tahu cara menggunakan stetoskop tentu sulit untuk bisa dipercaya sebagai dokter. Oleh karena itu, tema “kebenaran” menjadi isu yang sangat sentral dalam filsafat. Apa itu kebenaran? Bagaimana menentukan kebenaran? Semua pertanyaan berkembang, tapi pangkalnya adalah: apakah kebenaran itu ada?

Socrates, Plato dan Aristoteles, misalnya, yang mewakili arus pemikiran Yunani kuno, juga telah berbenturan dengan masalah kebenaran ini. Kalau kebenaran itu mutlak, dan semua orang mengetahuinya, tentu tak ada manusia yang berdebat. Pada kenyataannya, perdebatan manusia itu sama tuanya dengan usia peradaban manusia. Berdebat sekuat apa pun, seilmiah apa pun, akan ada saja perbedaan pendapat. Kebanyakan debat malah hanya menghasilkan ‘kesepakatan untuk tidak sepakat’. Oleh karena itu, ketiga tokoh ini berpendapat bahwa kebenaran itu ada yang relatif, namun mereka juga tak menampik adanya kebenaran yang berlaku umum secara mutlak.

Protagoras yang mewakili kaum Sophist memiliki pemikiran yang lain lagi. Pemikir yang satu ini termasyhur karena kata-katanya: “Man is the measure of all things.” (manusia adalah ukuran bagi segala sesuatunya). Dengan kata-kata ini, Protagoras hendak mengatakan bahwa ukuran bagi kebenaran adalah manusia itu sendiri. Artinya, manusia tak perlu lagi ‘mencari’ kebenaran, karena sebenarnya manusia itulah yang menentukan kebenarannya sendiri.

Pemikiran kaum Sophist masih dianut orang hingga kini dan melahirkan arus pemikiran yang disebut “relativisme”. Dalam pola pikir yang relativistik ini, semua kebenaran dianggap relatif tanpa kecuali. Karena kebenaran ditentukan oleh manusia, dan yang dimaksud “manusia” adalah seluruh spesies Homo Sapiens tanpa kecuali, maka kebenaran menjadi ‘hak privat’ dari masing-masing individu, dan sifatnya menjadi relatif seluruhnya.

Kaum beragama yang coba-coba bersikap relativistik berusaha keras mencarikan pembenarannya, kalau perlu dari kitab sucinya masing-masing. Tembok tinggi yang menghadang mereka adalah klaim kebenaran dari agamanya sendiri. Setiap agama mengaku sebagai yang paling benar. Bagaimana menyelaraskannya dengan prinsip relativisme? Untuk itulah dibangun konsep pluralisme dengan berbagai variannya. Kebenaran mutlak itu ada, hanya saja yang dipahami oleh manusia (dan agamanya masing-masing) adalah kebenaran-kebenaran yang sifatnya relatif. Wahyu Tuhan itu adalah kebenaran mutlak, namun dipahami oleh akal manusia secara terbatas, dan karenanya, pemahaman manusia akan senantiasa bersifat relatif. Mereka pun menarik garis tegas antara “agama” dan “pemahaman agama”. Ironisnya, semuanya mereka masukkan dalam kategori yang kedua, sehingga yang pertama menjadi benda abstrak yang tak pernah dikenal orang.

Relativisme juga telah ‘memakan korban’ yang lain. John Milton, misalnya, pernah berseteru dengan pemerintah negerinya sendiri lantaran sebuah brosur buatannya yang dianggap terlalu provokatif. Menurut Milton, isi brosurnya adalah semata-mata pendapatnya pribadi, sedangkan pendapat individu yang berbeda-beda adalah modal bagi kesatuan bangsa. Untuk menggali kebenaran, harus dengan merujuk pada pendapat banyak orang, bukan segelintir orang. Milton pun menjelaskan bahwa yang akan menentukan kebenaran adalah pendapat mayoritas. Namun meski mayoritas telah bersuara, masing-masing individu dibebaskan untuk menemukan kebenarannya sendiri-sendiri. Akan tetapi, Milton juga percaya bahwa jika fakta-fakta dibiarkan telanjang, maka kebenaran akan mengalahkan kebatilan dalam sebuah kompetisi terbuka. Tentu saja, dilema John Milton ini membuat kita bertanya-tanya; apakah kebenaran itu ditentukan oleh pendapat individu, pendapat mayoritas, atau hanya bisa ditemukan dari sebuah kompetisi terbuka? Perlu diberi catatan di sini bahwa pilihan terakhir yang melibatkan kompetisi terbuka pada hakikatnya sama saja dengan mengatakan bahwa kebenaran mutlak itu tidak ada, karena sebenarnya kompetisi opini itu selalu terbuka. Dengan demikian, kebenaran pun tak pernah selesai dirumuskan.

Kebingungan yang dihasilkan oleh ideologi relativisme ini kemudian melahirkan pola pikir skeptisisme yang meragukan kebenaran dan membenarkan keraguan. Bagi mereka, keraguan adalah hal yang wajar muncul di awal setiap kajian, dan keraguan identik dengan sikap kritis. Oleh karena itu, orang-orang yang begitu yakin pada sesuatu hal (termasuk iman pada agamanya sendiri) akan dianggap jumud, tidak kritis, tidak progresif, tidak kreatif dan tidak intelek. Sebaliknya, mereka yang senantiasa ragu justru dianggap cerdas dan ilmiah. Begitu hebatnya pengaruh skeptisisme ini sehingga ada seorang profesor terkenal di Barat yang selalu mengawali jawabannya dengan kata-kata “I don’t know”. Tentu saja, situasi menjadi canggung ketika seorang cendekiawan Muslim menghampirinya dan berkata, “So what DO you know, professor?”.

Di jaman edan ini, modern saja tidak cukup. Maka manusia pun mulai meninggalkan modernisme dan mengusung aliran pemikiran baru yang disebutnya post-modernisme. Kaum ‘posmo’ ini melangkah lebih jauh dari skeptisisme, yang sebenarnya masih mengakui adanya kebenaran, namun selalu meragukan pengetahuan manusia akan kebenaran itu. Menurut aliran post-modernisme ini, kebenaran itu tidak ada, sebagaimana kebatilan itu pun tidak ada. Oleh karena itu, pembicaraan tentang kebenaran menjadi suatu hal yang tidak relevan di Barat sekarang ini. Mereka yang membicarakan soal kebenaran akan dianggap ‘sok suci’ dan semacamnya. Kalau berani bicara kebenaran, pasti akan dituduh menebar klaim kebenaran. Tidak boleh ada yang merasa benar, karena hal yang demikian itu dianggap tidak toleran. Kebenaran itu sendiri terlalu diskriminatif, karena mendiskriminasi hal-hal yang disebut sebagai “kebatilan”. Mungkin karena kekhawatiran yang sangat besar akan sikap diskriminatif inilah maka seorang pentolan Islam liberal di Indonesia menyatakan keinginannya untuk ‘menyerap energi kesalehan dan energi kemaksiatan sekaligus’. Tak ada yang ingin dimasukkan dalam kelompok ‘kebatilan’; semuanya ingin dianggap benar. Karena semuanya ingin disebut benar, maka istilah “kebenaran” itu menjadi tak bermakna lagi.

Bagi seorang Muslim, masalah tentang adanya kebenaran mutlak dan dimungkinkannya pengetahuan tentang kebenaran mutlak itu bagi manusia sudah terjawab tuntas. Jika kita membuka lembaran awal mushhaf, kita akan temukan sebuah ayat yang menuntun kita untuk memohon ditunjukkannya jalan yang lurus: ihdina ash-shiraath al-mustaqiim. Di lembaran berikutnya, kita akan langsung temukan jawaban Allah SWT: dzaalika al-kitaabu laa rayba fiihi, hudan li al-muttaqiin. Kebenaran atau jalan yang lurus itu ada. Kita memohon kepada Allah, karena sumber kebenaran itu adalah dari Allah. Maka Allah pun berkenan menurunkan Kitab Suci Al-Qur’an yang tiada diperdebatkan lagi kebenarannya. Yang kita mohonkan adalah pengetahuan untuk mengenali kebenaran, dan yang Allah turunkan adalah petunjuk untuk mendapatkan pengetahuan tersebut. Jadi, kebenaran itu ada, manusia dapat memahaminya, dan kebenaran itu bersumber dari Allah SWT. Jelas, sederhana dan masuk akal!

Source: http://fimadani.com