Home » Posts filed under teknologi bionik
Showing posts with label teknologi bionik. Show all posts
Showing posts with label teknologi bionik. Show all posts
BionicOpter - Robot terbang yang terinspirasi dari capung
BionicOpter adalah robot capung yang dikendalikan dengan remote control yang bisa terbang layaknya capung di alam bebas, yang di desain sangant ringan dan dapat terbang dengan berbagai manufer.
Dengan BionicOpter, Festo secara teknis menguasai karakteristik penerbangan yang sangat kompleks dari capung. Sama seperti capung di alam, obyek terbang ultraringan ini bisa terbang ke segala arah, melayang-layang di udara dan meluncur tanpa mengepakkan sayapnya.
Selain mengontrol frekuensi mengepakkan bersama dan memutar sayap individu, masing-masing empat sayap juga dilengkapi dengan kontroler amplitudo. Kemiringan sayap menentukan arah dorong. Kontroler amplitudo memungkinkan intensitas dorong yang akan diatur. Ketika dikombinasikan, capung remote control bisa bermanufer hampir di semua posisi dalam ruang.
Dengan desain yang ringan dan sangat terintegrasi, ini merupakan cara unik untuk terbang yang dimungkinkan oleh konstruksi ringan dan integrasi fungsi: komponen seperti sensor, aktuator dan komponen mekanik serta sistem kontrol terbuka dan loop tertutup yang dipasang di ruang yang sangat ketat dan disesuaikan satu sama lain.
Dengan capung remote control, Festo mendemontrasikan komunikasi wireless real-time, pertukaran informasi terus menerus, serta kemampuan untuk menggabungkan evaluasi sensor yang berbeda dan mengidentifikasi kejadian yang kompleks dan kritis.
Source: Festo
Lensa Kontak Teleskopik Pertama di Dunia yang Memberikan Penglihatan Seperti Superman
Sebuah tim peneliti internasional telah menciptakan lensa kontak teleskopik pertama di dunia. Lensa kontak tersebut, ketika dipasang di mata Anda akan memberikan kekuatan untuk memperbesar penglihatan hampir tiga kali. Ya, ini adalah contoh yang pertama dari mata bionik yang efektif memberikan penglihatan seperti Superman atau penglihatan mata elang.
Seperti yang Anda lihat pada foto di atas, lensa kontak teleskopik memiliki dua daerah yang sangat berbeda. Pusat lensa memungkinkan cahaya untuk langsung melalui lensa, memberikan penglihatan normal. Sementara bagian tepi luar, bertindak sebagai teleskop yang mampu memperbesar pandangan Anda sebesar 2.8x. Ini hampir sama dengan melihat melalui lensa 100mm pada DSLR. Sebagai perbandingan, sepasang teropong pengamatan burung mungkin memiliki perbesaran 15x. Contoh-contoh yang ditunjukkan pada gambar di bawah ini memberikan Anda ide yang baik dari apa yang dapat dilakukan oleh optical zoom 2.8x yang akan terlihat seperti dalam kehidupan nyata.
Terobosan utama dari penelitian ini adalah bahwa lensa kontak teleskopik hanya memiliki ketebalan 1.17mm, memungkinkan untuk nyaman dipakai. Upaya lain pada pemberian penglihatan teleskopik telah menyertakan: lensa dengan ketebalan 4.4mm (terlalu tebal untuk penggunaan dunia nyata), kacamata teleskopik (terlalu rumit dan jelek), dan yang terbaru lensa teleskopik yang ditanamkan ke mata itu sendiri. Yang terakhir adalah saat ini pilihan terbaik yang tersedia saat ini, tetapi membutuhkan operasi dan kualitas gambar tidak baik.
Untuk membuat teleskop dengan tebal 1.17mm, para peneliti yang dipimpin oleh Joseph Ford UCSD dan Eric Tremblay dari EPFL harus lebih kreatif. Cahaya yang akan diperbesar memasuki tepi lensa kontak, memantul sekitar empat kali dalam lensa menggunakan cermin aluminium bermotif, dan kemudian dipancarkan ke tepi retina di belakang bola mata Anda. Cermin memperbesar gambar 2,8 kali, tetapi juga mengoreksi chromatic aberration, menghasilkan fidelity gambar sangat tinggi. Untuk beralih antara penglihatan normal dan teleskopik, bagian tengah lensa kontak (normal, unmagnified) memiliki filter polarisasi di depan lensa, dan kemudian pemakainya melengkapi sepasang kacamata 3D TV. Dengan beralih ke keadaan polarisasi kacamata (dalam kasus ini sepasang kristal cair aktif dari spesifikasi Samsung 3D), pengguna dapat memilih antara penglihatan normal dan diperbesar.
Dalam kasus ini mungkin Anda bertanya-tanya, apakah solusi ini ada untuk satu alasan: Untuk membantu memulihkan penglihatan orang dengan degenerasi makula terkait usia (age-related macular degeneration-AMD). AMD merusak resolusi tinggi fovea di pusat retina, tetapi umumnya di luar daerah resolusi rendah (perifovea) masih bekerja. Tanpa fovea, penderita AMD tidak bisa melihat rincian halus, seperti jenis pada halaman. Kacamata teleskopik, lensa, dan implan memfokuskan cahaya ke daerah bagian luar, memberikan orang-orang dengan AMD kemampuan untuk membuat penglihatannya lebih detail.
Saat ini lensa kontak teleskopik terbuat dari PMMA, polimer gas kedap yang lama, lensa kontak tidak nyaman digunakan. Untuk membawa lensa ini ke pasar, para peneliti akan perlu untuk beralih ke Rigid Gas Permeable (RGP) polimer, yang akan menghasilkan lensa kontak yang nyaman dan lebih modern. Meskipun lensa teleskopik jelas ditujukan untuk orang yang menderita AMD, tetai tidak ada yang mencegah seseorang yang sehat dari memakai lensa ini dan mendapatkan penglihatan lebih baik dari manusia biasa (manusia super?).
Sumber:
Research paper: dx.doi.org/10.1364/OE.21.015980 – “Switchable telescopic contact lens”
Austria Sukses Membuat Tangan Bionik
Apakah Anda masih ingat dengan film The Six Million Dollar Man atau Bionic Woman yang cukup berkesan beberapa tahun yang lalu menghiasi televisi. Dimana manusia dapat dibantu dengan adanya jaringan bionic (bio electronic dalam tubuhnya). Nah, kali ini negara Austria mencoba memamerkan keberhasilannya membuat jaringan bionic. Ilmuwan Austria memelopori tangan bionik yang didukung sinyal saraf.
Orang pertama yang mendapatkan satu tangan itu telah melakukan hal yang mustahil sejak setahun lalu, seperti naik sepeda serta makan dengan garpu dan pisau. Selama beberapa dekade, manusia telah berspekulasi tentang meningkatkan atau mengganti bagian tubuh mereka dengan implan bionik. Implan koklea dan alat pacu jantung telah menjadi biasa.
Perusahaan Austria bernama Bionic Reconstructions menjadi perintis teknik amputasi selektif untuk menggantikan tangan yang rusak parah dengan sambungan seperti cyborg yang dikendalikan langsung oleh otak.
Patrick Mayrhofer adalah orang yang memiliki tangan robot itu.
Dokter berhasil menyelamatkan lengan kirinya setelah ia tersengat listrik tiga tahun lalu saat kecelakaan kerja. Padahal, sembilan operasi tidak memungkinkan bagi Dr Oskar Aszmann dan tim ahli bedahnya menyelamatkan tangan kiri Mayrhofer.
Tangan itu memiliki rangka dari logam dengan sendi krom dan jari-jari dari plastik putih. Alat itu memiliki elektroda yang dapat menerima sinyal dari sistem saraf otak melalui kulit yang tersambung dengan tangan bionik.
Bahkan jika tangan yang nyata tidak ada lagi, otak masih bisa mengirimkan sinyal untuk memerintahkan elektroda tangan bionik untuk bergerak.
"Menggunakan elektroda, kita dapat memunculkan aktivasi otot, tegangan kecil pada kulit. Dengan dua hal itu, kita dapat membuka dan menutup tangan," ujar Janos Kalmar, salah satu peneliti.
Orang pertama yang mendapatkan satu tangan itu telah melakukan hal yang mustahil sejak setahun lalu, seperti naik sepeda serta makan dengan garpu dan pisau. Selama beberapa dekade, manusia telah berspekulasi tentang meningkatkan atau mengganti bagian tubuh mereka dengan implan bionik. Implan koklea dan alat pacu jantung telah menjadi biasa.
Perusahaan Austria bernama Bionic Reconstructions menjadi perintis teknik amputasi selektif untuk menggantikan tangan yang rusak parah dengan sambungan seperti cyborg yang dikendalikan langsung oleh otak.
Patrick Mayrhofer adalah orang yang memiliki tangan robot itu.
Dokter berhasil menyelamatkan lengan kirinya setelah ia tersengat listrik tiga tahun lalu saat kecelakaan kerja. Padahal, sembilan operasi tidak memungkinkan bagi Dr Oskar Aszmann dan tim ahli bedahnya menyelamatkan tangan kiri Mayrhofer.
Tangan itu memiliki rangka dari logam dengan sendi krom dan jari-jari dari plastik putih. Alat itu memiliki elektroda yang dapat menerima sinyal dari sistem saraf otak melalui kulit yang tersambung dengan tangan bionik.
Bahkan jika tangan yang nyata tidak ada lagi, otak masih bisa mengirimkan sinyal untuk memerintahkan elektroda tangan bionik untuk bergerak.
"Menggunakan elektroda, kita dapat memunculkan aktivasi otot, tegangan kecil pada kulit. Dengan dua hal itu, kita dapat membuka dan menutup tangan," ujar Janos Kalmar, salah satu peneliti.
Subscribe to:
Posts (Atom)









