Showing posts with label astrofisika. Show all posts
Showing posts with label astrofisika. Show all posts

Dari Makrokosmos ke Mikrokosmos Alam Semesta


Dalam gambar GIF di bawah ini, kita akan mulai dengan pandangan yang sangat luas dari alam semesta, dan mulai memperbesar pangkat meter 10x pada suatu waktu. Ini adalah animasi yang brilian dimana menampilkan berbagai benda langit, termasuk galaksi kita Milky Way atau galaksi Bima Sakti dan tata surya Sol.

Kemudian kita menuju Planet Bumi, dan mulai untuk memperbesar tembakan udara dari daerah berhutan lepas pantai Teluk Meksiko. Pandangan kita berlanjut ke ranah mikroskopis, dalam sel-sel tanaman dan ke dalam struktur atom.

Dari Makrokosmos ke Mikrokosmos Alam Semesta, sains, keajaiban alam, makrokosmos, mikrokosmos, astronomi, astrofisika, gambar GIF

Untuk pandangan yang lebih visual lainnya yang lebih menakjubkan dan inspiratif dengan skala yang universal (baik besar dan kecil) dapat ditemukan di:


The Scale of the Universe Interactive  by NASA
http://apod.nasa.gov/apod/ap120312.html
Interactive Map to our Solar System
http://www.solarsystemscope.com/scope.swf
Interactive Scale of the Universe
http://www.scaleofuniverse.com/

NASA Temukan galaxy terjauh yang pernah dilihat menggunakan teleskop Hubble

NASA Temukan galaxy terjauh yang pernah dilihat menggunakan teleskop Hubble

Para astronom telah melihat tujuh galaksi yang telah ada hanya beberapa ratus juta tahun setelah kelahiran alam semesta, termasuk salah satu yang mungkin tertua yang ditemukan sampai saat ini.

Galaksi yang berpotensi sebagai pemegang rekor tertua, yang dikenal sebagai UDFj-39546284, kemungkinan ada ketika alam semesta hanya 380 juta tahun, dan mungkin galaksi terjauh yang pernah dilihat, kata para peneliti. Enam galaksi terjauh lainnya semua terbentuk dalam 600 juta tahun dari Big Bang, dimana alam semesta kita tercipta 13,7 miliar tahun yang lalu.

UDFj-39546284 terdeteksi sebelumnya, dan peneliti berpikir itu terbentuk hanya 500 juta tahun atau lebih setelah Big Bang. Pengamatan baru NASA dibuat dengan menggunakan Hubble Space Telescope, mendorong waktu pembentukan yang kemungkinan kembali lebih jauh.

Tujuh galaksi ini merupakan sensus galaksi yang dapat dipercaya sebagai zaman pertama sekitar 400,000,000-600.000.000 tahun setelah kelahiran alam semesta, kata para peneliti. Sensus ini mendeteksi peningkatan yang stabil dalam galaksi selama periode ini, menunjukkan bahwa pembentukan bintang dan galaksi pertama yang disebut "cosmic dawn" - terjadi secara bertahap.

LIHAT JUGA: Galeri: Foto Spectacular Hubble

Peneliti mengarahkan Hubble pada sepetak kecil langit yang dikenal sebagai Hubble Ultra Deep Field, pengamatan dilakukan selama berjam-jam untuk melihat obyek yang jauh dan sangat samar. Para peneliti menggunakan Wide Field Camera untuk mempelajari bidang di dekat panjang gelombang inframerah selama bulan Agustus dan September 2012.

NASA Temukan galaxy terjauh yang pernah dilihat menggunakan teleskop Hubble


Para astronom menggunakan filter khusus untuk mengukur redshifts galaksi, seberapa banyak cahaya yang telah membentang oleh perluasan ruang. Dari redshifts, para peneliti mampu menghitung jarak ke setiap galaksi, juga mengungkap umur galaksi tersebut.

Data baru Hubble "berasal dari penggalian arkeologi terbesar yang kita miliki dari alam semesta," kata astronom Harvard Abraham Loeb, yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

Tim Hubble mendorong ke batas-batas kemampuan teleskop Hubble, dan teleskop mungkin tidak akan dapat melihat lebih jauh lagi. Tapi teleskop NASA yang lain yaitu James Webb Space Telescope, yang dijadwalkan untuk beroperasi pada tahun 2018, akan menggali lebih dalam ke masa lalu alam semesta.

Studi terbaru ini telah dipublikasi dalam jurnal Astrophysical Journal Letters.

Sumber:
Space.com
Images courtesy of  NASA

Ion Panas Matahari membentuk gelembung di ruang angkasa pada heliosphere


Ion Panas Matahari membentuk gelembung di ruang angkasa pada heliosphere
Matahari memuntahkan angin panas berupa ion yang bergerak pada 300 sampai 800 kilometer per detik. Partikel tersebut membentuk semacam gelembung di ruang angkasa pada heliosphere. Ion ini adalah partikel bermuatan yang akan melambat dan berhenti ketika bertumbukkan dengan atom hidrogen dan helium di ruang antar bintang. Tapi atom-atom ini dapat menembus heliosphere, dan satelit dekat bumi yang disebut IBEX, merupakan satelit Interstellar Boundary Explorer, telah mengamati hal tersebut! Gambar di atas menunjukkan apa yang telah direkam IBEX.

Pada bulan Desember 2008, IBEX pertama kali mulai melihat atom netral energik menembus heliosphere. Pada bulan Oktober 2009 tim IBEX telah mengumpulkan cukup data untuk melihat pita IBEX: sebuah daerah berbentuk busur tak terduga di langit memiliki banyak atom netral lebih energik dari yang diharapkan.

Warna menunjukkan berapa banyak atom netral energik yang menghantam heliosphere per detik per sentimeter persegi per keV. Satuan keV, atau kilo-elektron-volt, adalah satuan energi. Atom yang berbeda bergerak dengan energi yang berbeda, sehingga masuk akal untuk menghitung energi atom dengan cara ini.

Anda dapat melihat bagaimana pesawat ruang angkasa Voyager meninggalkan heliosphere. Anda juga dapat melihat bagaimana garis-garis interstellar medan magnet menghindari gelembung ini. Sejak pita IBEX terdeteksi, tim IBEX telah mencoba untuk mencari tahu apa penyebabnya. Mereka pikir itu terkait dengan interstellar medan magnet. Pita telah bergerak dan mengubah intensitas dalam beberapa tahun setelah mereka mengamatinya!

Sebuah kejutan besar, baru-baru ini IBEX mengumumkan bahwa tata surya kita tidak memiliki daerah berbentuk busur ini. Sebelumnya, para ilmuwan berpikir heliosphere menciptakan gelombang kejut berbentuk busur dalam gas antar bintang saat bergerak bersama.

Untuk lebih lanjut tentang IBEX, lihat:
http://ibex.swri.edu/

dan untuk lebih lanjut tentang heliosphere, lihat:
http://en.wikipedia.org/wiki/Heliosphere

Astronom Temukan Planet Berlian dengan Ukuran 2 Kali Bumi


Astronom Temukan Planet Berlian 55 Cancri e dengan Ukuran 2 Kali Bumi

Astronom melaporkan keberadaan "planet berlian" dengan ukuran dua kali lebih besar dan delapan kali massa planet Bumi, dan mengorbit bintang menyerupai matahari.

Planet 55 Cancri e bukanlah planet berlian pertama yang pernah ditemukan, tetapi planet ini adalah yang pertama ditemukan mengorbit bintang menyerupai matahari dan diteliti secara detail mengenai unsur-unsur kimia yang terkandung di dalamnya.

Penelitian ini dilakukan oleh Nikku Madhusudhan, peneliti pasca-doktoral bidang fisika dan astronomi di Yale, dan Olivier Mousis dari Institut Penelitian Astrofisika dan Planetologi, Toulouse, Perancis. Dari penelitian tersebut menyimpulkan bahwa sepertiga massa planet adalah berlian. Sepertiga massa planet ini setara dengan tiga massa Bumi.

Dengan penemuan ini planet yang kaya karbon dan berbatu yang jauh tak lagi bisa diasumsikan memiliki unsur kimia, interior, atmosfer, atau kandungan biologi yang mirip dengan Bumi.

Sebenarnya planet berlian ini telah diobservasi tahun lalu, namun pada saat itu para peneliti pertama mengasumsikan bahwa unsur kimia planet ini mirip dengan Bumi.

Setelah analisis mendetail dari tim peneliti gabungan Amerika dan Prancis, mereka mendapati bahwa planet 55 Cancri e memiliki struktur berbeda dengan Bumi.

Rupanya planet ini sebagian besar terdiri dari gabungan karbon (seperti grafit dan berlian), besi, karbid silikon, dan silikat. Seperti ditulis para peneliti dalam laporan yang dimuat di jurnal  Astrophysical Journal Letters.

Permukaan planet ini sepertinya ditutupi oleh grafit dan berlian dan bahkan planet ini sepertinya sama sekali tak punya air. Dan sekitar sepertiga dari massa planet bisa terbuat dari berlian, sejenis karbon yang sangat padat.

Para peneliti memperkirakan radius planet saat berada di depan bintangnya. Informasi ini, digabung dengan perkiraan massanya, digunakan untuk menentukan model komposisi planet. Berdasarkan perhitungan tersebut, mereka kemudian menentukan apa saja elemen yang bisa menghasilkan ukuran dan massa yang spesifik.

Planet 55 Cancri e mengorbit bintangnya sangat cepat, satu tahun di Bumi berlalu hanya 18 jam di planet tersebut. Dan karena terletak sangat dekat dengan bintangnya, suhu di permukaan rata-rata 3900 derajat Fahrenheit (2148 derajat Celsius), sangat tidak memungkinkan adanya kehidupan.

Planet yang hanya 40 tahun cahaya dari Bumi dan terletak di konstelasi Cancer ini membuka kemungkinan-kemungkinan baru dalam mempelajari proses geokimia dan geofisika pada planet-planet seukuran Bumi lain di sekitar bintang terdekat.

Pakar astronomi Universitas Princeton, David Spergel, mengatakan, penelitian atas struktur dasar dan sejarah sebuah planet menjadi mudah jika massa dan usia planet itu diketahui. Bintang-bintang itu cukup sederhana, dengan melihat massa dan usia bintang, Anda bisa tahu struktur dasar serta sejarahnya.

"Planet-planet ini jauh lebih kompleks. Planet berlian ini adalah salah satu contoh kekayaan alam semesta yang sewaktu-waktu bisa ditemukan saat kita mengeksplorasi planet-planet di sekitar bintang terdekat," kata Spergel.

Jadi jika seandainya Anda bisa sampai di sana Anda akan sangat kaya. Tetapi Anda tidak akan mau tinggal disana..............

Ditemukan Awan Air Terbesar di Jagad Raya


Para ilmuwan baru-baru ini berhasil menemukan massa air raksasa terbesar dan tertua di jagad raya.
Massa air berbentuk awan itu, berusia 12 miliar tahun dan diperkirakan mengandung massa air  yang besarnya 140 triliun kali lipat dari seluruh massa air yang ada di bumi. 
Awan uap air itu dikelilingi oleh sebuah lubang hitam supermasif yang dikenal dengan quasar, berada di lokasi yang berjarak sekitar 12 miliar tahun cahaya dari Bumi.
Seperti dikutip stasiun berita MSNBC, para ilmuwan mengatakan bahwa temuan ini membuktikan bahwa air telah ada sejak awal keberadaan jagad raya 
"Karena cahaya yang kita lihat meninggalkan kuasar itu lebih dari 12 tahun cahaya, kita melihat kehadiran air hanya sekitar 1,6 milar setelah awal dari jagad raya," ujar Alberto Bolatto, salah seorang peneliti dari University of Maryland lewat sebuah pernyataan.
Penemuan ini menandai keberadaan air semiliar tahun lebih dekat dengan peristiwa dentuman besar.
Quasar adalah obyek bercahaya dan paling energetik di alam raya. Kuasar ditenagai oleh lubang hitam besar yang menghisap gas-gas dan debu di sekitarnya lalu memuntahkan energi dalam jumlah besar. 
Para tim astronom berhasil mendeteksi dan mengkonfirmasi keberadaan awan air itu di sekeliling quasar, melalui dua teleskop berbeda, satu di Hawaii dan satu lagi di California. 
Peneliti memperkirakan, bahwa uap air itu terbentuk di awal kemunculan alam raya. Jadi, penemuan awan tua ini tida terlalu mengagetkan mereka. "Ini adalah bukti selanjutnya di mana air  meresap ke seluruh alam semesta, bahkan di saat-saat yang sangat awal," kata pemimpin penulis riset, Matt Bradford, dari Jet Propulsion Laboratory NASA di Pasadena, California.
Quasar APM 08279+5255  mengandung uap air yang besarnya 4.000 kali lebih besar daripada galaksi Bima Sakti, kata para peneliti. Hal ini mungkin dikarenakan banyak air di galaksi Bima Sakti yang berwujud es, bukan uap.
Uap air di quasar didistribusikan ke sekitar lubang hitam masif di wilayah yang panjangnya mencakup ratusan tahun cahaya. Awan tersebut memiliki suhu minus 63 derajat Fahrenheit (-17,2 derajat celsius), namun, atmosfer bumi memiliki kepadatan yang 300 triliun kali lebih padat daripada awan tersebut.
Setidaknya, awan itu lima kali lebih panas, dan 10 sampai 100 kali lebih padat daripada apa yang biasa dijumpai di galaksi-galaksi, termasuk Bima Sakti, kata para peneliti. Awan air itu juga mengungkap info penting lain tentang quasar. 
Pengukuran uap air dan molekul-molekul lain seperti karbon monoksida, mengungkap kemungkinan bahwa terdapat jumlah gas yang cukup bagi lubang hitam untuk berkembang hingga sekitar enam kali dari ukuran sebelumnya. Temuan ini akan segera dipublikasikan pada Astrophysical Journal Letters.

Ukuran Alam Semesta 250 Kali Lipat Lebih Luas

Apakah alam semesta memiliki ukuran pasti atau tak terbatas? Berhubung ukuran alam semesta yang dapat dilihat semakin meluas, benda berjarak terjauh yang bisa dilihat menjadi jauh lebih tua dibanding yang diperkirakan yakni sekitar 14 miliar tahun.

Diketahui, photon pada latar belakang gelombang mikro kosmik telah menempuh waktu 45 miliar tahun untuk tiba di Bumi. Itu berarti, alam semesta yang terlihat oleh mata setidaknya memiliki ukuran seluas 90 miliar tahun cahaya.

Namun demikian, ternyata alam semesta jauh lebih luas lagi. Ini bisa diketahui berkat analisis statistik yang dibuat oleh Mihran Vardanyan dan rekan-rekannya, peneliti dari University of Oxford.

Menurut Vardanyan, seperti dikutip dari Daily Galaxy, kunci dari mengetahui ukuran sebenarnya dari alam semesta adalah dengan mengukur lengkungannya.

Sebelumnya, astronom memiliki beberapa metode untuk mengukur lengkungan tersebut. Salah satunya, menurut Technology Review dari Massachusetts Institute of Technology, adalah menggunakan objek yang berada di jarak jauh yang sudah diketahui ukurannya dan membandingkan dengan seberapa besar ia terlihat.

Jika objek itu tampak lebih besar dibanding seharusnya, alam semesta tertutup. Jika ukurannya tampak sama seperti seharusnya, alam semesta berbentuk datar. Namun, jika lebih kecil, berarti alam semesta terbuka (tak terhingga).

Masalahnya, saat ilmuwan mengamati berbagai data dari bermacam model, mereka mendapatkan jawaban yang berbeda-beda untuk mengetahui jawaban pasti seputar lengkungan dan ukuran alam semesta. Lalu, mana yang paling akurat di antaranya?

Terobosan yang diambil Vardanyan dan timnya disebut dengan nama Bayesian modelaveraging. Teknik ini lebih cerdas dibandingkan dengan menggunakan pengukuran lengkungan yang umum digunakan ilmuwan untuk menjelaskan data yang mereka miliki.

Menurut permodelan yang dibuat Vardanyan, lengkungan alam semesta sangat dekat dengan 0. Dengan kata lain, kemungkinan besar, alam semesta berukuran datar.

Sebuah alam semesta yang berbentuk datar juga bisa tak terbatas. Dan kalkulasi yang dibuat oleh Vardanyan juga konsisten dengan hal ini. Dari perhitungan, alam semesta memiliki ukuran setidaknya 250 kali lipat lebih besar dibandingkan dengan Hubber volume yang berukuran 13,8 miliar tahun cahaya. 

Teori Relativitas Einstein yang Dibuktikan NASA


Alat pengukur gravitasi milik Badan Antariksa Amerika Serikat, NASA, berhasil membuktikan dua asumsi kunci yang dicetuskan Albert Einstein dalam teori relativitas. Teori ini dicetuskan oleh Einstein pada 52 tahun yang lalu.
Misi The Gravity Probe-B (GP-B) diluncurkan pada tahun 2004 untuk mempelajari dua asumsi Einstein. Pertama, mengenai efek geodesi, atau adanya lengkungan ruang dan waktu di sekitar gravitasi. Kedua, asumsi mengenai frame-dragging, yang menjelaskan jumlah struktur ruang-waktu yang terpilin akibat rotasi suatu massa.    
Bayangkan bumi seakan-akan terbenam di benda seperti madu, ketika bumi berotasi, madu di sekitarnya akan membentuk pusaran yang mengikuti (swirl), begitu pula dengan ruang dan waktu. Demikian menurut analogi Francis Everitt, peneliti Stanford University yang juga peneliti utama GP-B.
Gravity Probe-B menggunakan empat gyroscope (pengukur orientasi) dengan tingkat ketepatan ultra tinggi untuk mengukur dua hipotesa gravitasi ini. Alat ini kemudian mengkonfirmasi kedua efek gravitasi dengan mengarahkan alat ini ke bintang yang disebut IM Pegasi, untuk menciptakan presisi yang netral.
Jika gravitasi tidak berdampak terhadap ruang dan waktu, maka gyroscope GP-B akan menunjuk ke arah yang sama saat probe itu berada di kutub orbit sekitar bumi. Bagaimana pun, gyroscopes memiliki perubahan kecil tapi terukur terhadap arah putaran daya tarik bumi.
"Hasil misi ini akan memiliki dampak jangka panjang terhadap teori yang dimiliki ahli fisika," kata Bill Danchi, ahli antrofisika dan pengamat di Markas Nasa di Washington.
"Setiap teori yang meragukan teori Einstein dalam hal relativitas umum akan mencoba untuk mencari hasil pengukuran yang tepat dari yang telah dilakukan GP-B," lanjut Danchi.
Hasil ini menjadi proyek terpanjang yang dilakukan NASA, yang telah terlibat dalam penelitian gyroscope untuk relativitas sejak 1963.   
Penelitian dan percobaan yang dilakukan selama berpuluh tahun ini telah merintis teknologi untuk mengendalikan gangguan yang bisa mempengaruhi pesawat ulang-alik, seperti daya tarik aerodinamis, medan magnet, dan variasi hawa panas. Lebih jauh, misi pelacak bintang dan gyroscope NASA merupakan alat dengan presisi tertinggi yang pernah didesain dan diproduksi.   

Sensus Kosmik: Ada 50 Miliar Planet di Bima Sakti

Para ilmuwan antariksa mengadakan sensus kosmik pertama di galaksi Bima Sakti. Hasilnya, diperkirakan ada 50 miliar planet di galaksi tersebut.

Setidaknya ada 500 juta planet di wilayah yang tidak terlalu panas dan tidak tidak terlalu dingin -- di mana mungkin ada kehidupan. Perkiraan jumlah ini didasarkan hasil sementara yang diperoleh teleskop pemburu planet, Kepler milik Badan Antariksa Amerika Serikat, NASA.

Ilmuwan Kepler, William Borucki, mengatakan, jumlah planet tersebut diperoleh dari pengamatan zona kecil di langit malam, lalu membuat estimasi dengan dasar asumsi, setiap bintang memiliki sejumlah planet. Kepler menghitung planet-planet tersebut saat melintas antara Bumi dan orbit bintang.

Sejauh ini, Kepler telah menemukan 1.235 kandidat planet yang diperkirakan bisa menopang kehidupan, 54 di antaranya berada di zona Goldilocks. Misi Kepler bukan untuk memeriksa setiap planet, namun memberi gambaran pada para astronom tentang jumlah planet, khususnya yang berpotensi ditinggali makhluk hidup.

Borucki dan rekan-rekannya menggambarkan, satu dari dua bintang memiliki planet, dan satu dibanding 200 bintang memiliki planet yang berpotensi ditinggali makhluk hidup. Estimasi ini diumumkan dalam konferensi tahunan American Association for the Advancement of Science, Sabtu 19 Februari 2011.

Ini baru perkiraan minimum, sebab bintang-bintang tersebut bisa memiliki lebih dari satu planet. Kepler pun belum mampu melihat planet-planet di sisi luar bintang.

Misalnya, jika Kepler berjarak 1.000 tahun cahaya dari Bumi dan melihat ke Matahari, ketika Venus melintas, hanya ada kemungkinan 1:8 Kepler melihat Bumi.

Untuk mendapatkan estimasi total jumlah planet, para ilmuwan menggunakan frekuensi yang telah diterapkan dan mengaplikasikannya ke beberapa bintang di Bima Sakti.

Sebelum sensus dilakukan, para ilmuwan berasumsi, ada 100 miliar bintang di Bima Sakti, sementara itu, tahun lalu, para astronom Universitas Yale, memperkirakan ada 300 miliar bintang.

Jumlah sebanyak itu hanya ada di galaksi Bima Sakti. Bayangkan jumlah seluruh planet di alam semesta. Apalagi, jumlah galaksi diperkirakan ada 100 miliar.

Borucki mengatakan, kalkulasi teranyar berdasar sensus ini akan mengantarkan kepada pertanyaan, adakah kehidupan lain di luar sana. "Pertanyaan berikutnya, mengapa mereka tidak mengunjungi kita di Bumi," seperti dimuat Associated Press. Jawabannya? "Saya tidak tahu," tukas dia. 

Menguak Misteri Sinar Kosmik

Menguak Misteri Sinar Kosmik
Sepuluh tahun terakhir, para ilmuwan melakukan sebuah percobaan ambisius. Percobaan itu berupaya menjelaskan misteri sinar kosmik dan partikel yang sulit dipahami, yang dikenal sebagai neutrino.

Mereka mengubur ribuan sensor di bawah permukaan es Antartika sepanjang lebih dari satu mil. Sensor itu untuk merekam kilatan cahaya biru yang dilepaskan pada saat sinar dan partikel berenergi tinggi bertabrakan dengan atom dalam es.

Dengan merekam pola cahaya dari tabrakan, itu memungkinkan para ilmuwan untuk menentukan dari galaksi manakah mereka berasal.


Analisa tersebut dibangun berdasarkan hasil IceCube Neutrino Observatory, atau yang disebut dengan 'Teleskop' oleh ilmuwan, yang dibangun jauh di dasar lapisan es Antartika.

Para ilmuwan berharap bahwa ketika observatorium selesai, mereka nantinya dapat mengidentifikasi aliran energi tinggi sinar kosmik dan neutrino yang melewati galaksi secara akurat.

"Sinar Kosmik ditemukan 100 tahun lalu, tetapi kita masih tidak tahu di mana mereka berasal," kata Profesor Subir Sarkar, seorang astrofisikawan di Oxford University yang memimpin keterlibatan Inggris pada percobaan IceCube.

Sinar kosmik merupakan partikel energi tinggi di angkasa luar yang diduga berasal dari sisa-sisa bintang mati. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa sinar kosmik galaksi dapat mengubah iklim bumi, mempengaruhi cuaca, memicu badai dan menutupi awan. Belum ada jawaban yang pasti akan teori ini. Namun, ilmuwan berharap agar mereka menemukan jawabannya lewat eksperimen IceCube.

Antartika adalah tempat terbaik untuk melakukan eksperimen ini. Permukaan es-nya sangat jelas, hampir sepenuhnya bebas dari gelembung udara dan distorsi lainnya.

Peneliti yang terlibat dalam proyek yang dipimpin oleh University of Wisconsin Madison. Mereka kini, sedang mempertimbangkan cara baru untuk memperluas area percobaan.


Artikel lain yang mungkin Anda sukai :
NASA, Foto Terbaru Permukaan Bulan570-megapixel Dark Energy Camera berharap untuk membuka rahasia alam semestaJupiter cukup besar untuk menelan semua planet di tata suryaMars Rover Curiosity, Robot Paling Canggih Keingintahuan Manusia Mendarat di MarsPlanet-Planet Pemecah Rekor di Alam SemestaGalaksi Bimasakti Dipenuhi 160 Miliar PlanetPlanet Kepler-22b “Bumi Baru" Yang Berpotensi Mendukung KehidupanFakta Mengerikan Seputar Perjalanan ke Ruang AngkasaDitemukan Awan Air Terbesar di Jagad RayaUkuran Alam Semesta 250 Kali Lipat Lebih LuasTeori Relativitas Einstein yang Dibuktikan NASAFoto Planet Merkurius dari Jarak 193 KmInfografis Yuri Gagarin Manusia Pertama Yang Berhasil Menembus Luar AngkasaDitemukan Medan Magnet, Jalan Lolos dari Black HoleMenakjubkan, FOTO Close-UP Matahari yang SesungguhynaCitra Jakarta Tahun 1976 dan 2004 Versi NASA
Pengembangan Teknologi Nuklir
Penguraian Air Menggunakan Gelombang Radio
Misteri Hilangnya Gas Mulia Xenon
Mengubah Urin Jadi Bahan Bakar Hidrogen
Mengapa gelembung sabun berbentuk bulat?
Suara dari Laboratorium Pemecah Partikel (Particle Smasher)