Setelah sukses meluncurkan tablet Aakash generasi pertama yang merupakan tablet termurah sedunia, kini DataWind merilis Aakash II yang akan secara resmi dijual oleh pemerintah India. Tablet super murah yang ditujukan untuk kalangan menengah ke bawah dan masih berstatus pelajar tersebut akan dijual dengan harga $35 USD atau sekitar 330 ribu rupiah. Saat ini, tablet tersebut memang sengaja diberikan secara gratis oleh pemerintah India untuk kalangan pendidikan.
Spesifikasi tablet Aakash 2 lumayan bagus dan lebih baik dari Aakash generasi pertama. Di dalamnya, terdapat prosesor ARM Cortex A8, RAM 512MB, kamera depan serta memori internal berkapasitas 4GB. Layarnya juga merupakan layar sentuh kapasitif dan mendukung fitur multitouch. Cukup mengesankan mengingat harganya hanya 300 ribuan.
Datawind sebagai produsen dari tablet Aakash ini mengungkapkan bahwa sebelum diluncurkan, telah banyak permintaan akan tablet Aakash 2 ini. Mereka pun mengklaim telah memproduksi lebih dari 5.5 juta unit tablet. Jumlah itu masih sedikit, karena mereka menargetkan tingkat produksi sebesar 220 juta unit.
Belum ada penjelasan mengenai ketersediaan tablet ini untuk pasaran luar negeri. Dengan harga yang murah serta spesifikasi yang cukup baik, tidak mengherankan jika tablet ini juga akan diminati di negara-negara berkembang, tak terkecuali Indonesia.
Home » Posts filed under india
Showing posts with label india. Show all posts
Showing posts with label india. Show all posts
Aakash Tablet Paling Murah Sedunia Harga Hanya 300 Ribuan
India nampaknya menjadi negara sangat ramah bagi kalangan menengah ke bawah. Terlebih bagi mereka yang masih berstatus pelajar. Pemerintah menyediakan sebuah tablet bernama Aakash kepada para pelajar di India hanya seharga 35 USD atau sekitar 300 ribuan.
Tablet buatan DataWind ini memiliki layar 7 inci dengan menggunakan chip Connexant 366MHz, dengan fasilitas penyimpanan 2 GB dan 256 MB RAM . Sebagai tahap awal, sekitar 100 ribu tablet akan diluncurkan pada bulan depan.
Dengan adanya tablet ini, diharapkan akses menuju internet akan menjadi lebih mudah. Saat ini hanya 8 persen penduduk India yang memiliki akses ke internet secara pribadi. Tak hanya itu, para penduduk India pun lebih memilih untuk menggunakan sebuah PC daripada tablet.
Menteri Komunikasi India, Kapil Sibal mengatakan bahwa semua pelajar di India harus memiliki tablet ini. Sedangkan jika kalangan umum menginginkan, maka mereka harus membayar jauh lebih mahal, yakni 61 USD atau sekitar 600 ribuan. Tentunya untuk masyarakat umum, tablet ini akan mendapatkan fitur yang lebih lengkap.
Topik Lainnya: samsung, android, smartphone, ponsel, komputer, teknologi, gadget, blackberry, iPhone, laptop, komputer tablet
Di India, Perempuan Belum Menikah Dilarang Pakai HP
Sebuah desa di selatan India, Lank, melarang perempuan yang belum menikah menggunakan telepon genggam atau HP. Alasannya, dikhawatirkan mereka merencanakan perkawinan terlarang yang bisa-bisa berujung pada hukuman mati.
Di beberapa wilayah di utara India, pernikahan antara anggota klan yang sama dilarang. Pernikahan biasanya diatur oleh orang tua alias dijodohkan.
Bahkan, di beberapa desa yang masih konservatif, keluarga biasa menerapkan hukuman ekstrim, termasuk 'pembunuhan atas nama kehormatan', bagi mereka yang melanggar tabu. Dalam beberapa kasus, dewan desa bahkan memerintahkan hukuman itu, meski prakteknya seringkali dihalangi oleh aparat kepolisian.
Makin berkembangnya teknologi juga membuat para tetua Desa Lank ketakutan. Khawatir telepon genggam menyatukan dua sejoli dalam hubungan terlarang.
Namun, larangan ini tidak berlaku bagi para pemuda lajang. Mereka boleh memakai HP selama berada dalam pengawasan orang tua.
Keputusan ini sontak ditentang para aktivis perempuan. Kata mereka ini tak adil dan ketinggalan jaman.
Apa yang sebenarnya terjadi di sana?
Pejabat kepolisian Lucknow, Jenderal Brij Lal punya penjelasan. Diceritakannya, bulan lalu, ada 34 pasangan kawin lari di Distrik Muzaffarnagar, Uttar Pradesh, di mana Desa Lank termasuk di dalamnya. Di antara mereka, delapan di antaranya dibunuh. Hanya dalam waktu sebulan.
"Tiga gadis dipenggal oleh anggota laki-laki dari keluarga mereka sendiri. Gara-garanya mereka kawin lari dengan anak laki-laki dari klan yang sama," kata Brij Lal seperti dimuat situs Washington Times.
Ini biasa terjadi. Meski keputusan dewan tetua adat desa yang disebut panchayat tidak mengikat secara hukum di India, tetapi itu dilihat sebagai kehendak masyarakat lokal.
Mereka yang berani menentang, risikonya dikucilkan. Di Uttar Pradesh, panchayat yang punya pengaruh sangat kuat telah menyatakan bahwa anak laki-laki dan perempuan dari marga yang sama pada dasarnya adalah saudara kandung.
Larangan penggunaan ponsel bagi perempuan lajang adalah bagian upaya lebih luas untuk menghalangi pernikahan intraklan di kalangan 3 juta penduduk Pradesh.
Menurut anggota dewan adat, Satish Tyagi, keputusan panchayat yang mengikat 50.000 warga Desa Lank sedang dipertimbangkan untuk diterapkan di desa-desa lainnya. "Sebab, ponsel terbukti membantu pasangan muda kawin lari," kata dia.
Di beberapa wilayah di utara India, pernikahan antara anggota klan yang sama dilarang. Pernikahan biasanya diatur oleh orang tua alias dijodohkan.
Bahkan, di beberapa desa yang masih konservatif, keluarga biasa menerapkan hukuman ekstrim, termasuk 'pembunuhan atas nama kehormatan', bagi mereka yang melanggar tabu. Dalam beberapa kasus, dewan desa bahkan memerintahkan hukuman itu, meski prakteknya seringkali dihalangi oleh aparat kepolisian.
Makin berkembangnya teknologi juga membuat para tetua Desa Lank ketakutan. Khawatir telepon genggam menyatukan dua sejoli dalam hubungan terlarang.
Namun, larangan ini tidak berlaku bagi para pemuda lajang. Mereka boleh memakai HP selama berada dalam pengawasan orang tua.
Keputusan ini sontak ditentang para aktivis perempuan. Kata mereka ini tak adil dan ketinggalan jaman.
Apa yang sebenarnya terjadi di sana?
Pejabat kepolisian Lucknow, Jenderal Brij Lal punya penjelasan. Diceritakannya, bulan lalu, ada 34 pasangan kawin lari di Distrik Muzaffarnagar, Uttar Pradesh, di mana Desa Lank termasuk di dalamnya. Di antara mereka, delapan di antaranya dibunuh. Hanya dalam waktu sebulan.
"Tiga gadis dipenggal oleh anggota laki-laki dari keluarga mereka sendiri. Gara-garanya mereka kawin lari dengan anak laki-laki dari klan yang sama," kata Brij Lal seperti dimuat situs Washington Times.
Ini biasa terjadi. Meski keputusan dewan tetua adat desa yang disebut panchayat tidak mengikat secara hukum di India, tetapi itu dilihat sebagai kehendak masyarakat lokal.
Mereka yang berani menentang, risikonya dikucilkan. Di Uttar Pradesh, panchayat yang punya pengaruh sangat kuat telah menyatakan bahwa anak laki-laki dan perempuan dari marga yang sama pada dasarnya adalah saudara kandung.
Larangan penggunaan ponsel bagi perempuan lajang adalah bagian upaya lebih luas untuk menghalangi pernikahan intraklan di kalangan 3 juta penduduk Pradesh.
Menurut anggota dewan adat, Satish Tyagi, keputusan panchayat yang mengikat 50.000 warga Desa Lank sedang dipertimbangkan untuk diterapkan di desa-desa lainnya. "Sebab, ponsel terbukti membantu pasangan muda kawin lari," kata dia.
Subscribe to:
Posts (Atom)


