Showing posts with label profil. Show all posts
Showing posts with label profil. Show all posts

Gita Cherry Prabhandhari, Google spam fighter asal Indonesia


Gita Cherry Prabhandhari, Google

Mungkin belum banyak orang-orang yang mengenal siapa Gita Cherry Prabhandhari. Ia adalah orang Indonesia yang tumbuh besar di Indonesia dan menyelesaikan kuliahnya di Ritsumeikan Asia PasificUniversity, Jepang.

Menurut situs pribadi Gita Cherry Prabhandhari di alamat http://prabhandhari.com, si cantik Gita Cherry Prabhandhari ini punya spesialisasi di bidang Spam Investigation, Digital Media Planning, Web Analytics, Oral History, Social Resarch dan Web Building.

Dunia teknologi informasi memang selalu identik dengan kaum geek yang biasanya didominasi oleh kaum Adam, namun kaum Hawa pun mulai turut serta berperan di dunia IT, sebut saja Gita Cherry Prabhandhari, seorang Google spam fighter asal Indonesia.

Gadis Indonesia asli yang diangkat oleh Google untuk mengurusi masalah Search Quality Associate di tim Search Quality Google yang memiliki tugas khusus untuk membasmi Spam, terutama untuk wilayah Indonesia. Sampai saat ini wanita cantik ini memang satu-satunya Googler (sebutan untuk karyawan Google) yang bekerja di Google Dublin, Irlandia.

Sosok Gita Cherry Prabhandhari sebenarnya sudah cukup hangat dibicarakan di kalangan blogger Indonesia dan forum Kaskus yang mana mereka menyebut Gita Cherry Prabhandhari sebagai webmaster Google pertama di Indonesia.

Gita Cherry Prabhandhari sendiri membantah bahwa dirinya adalah bekerja sebagai webmaster, dia lebih suka disebut sebagai spam fighter yang bertugas untuk menyaring sampah spam yang memenuhi hasil pencarian Google.

Seperti yang dilansir dari Kaskus, tugas utama seorang Gita Cherry Prabhandhari sebagai Search Quality Associate untuk bahasa Indonesia di Google antara lain :
* Meninjau ulang kualitas dan kuantitas situs.
* Meningkatkan kualitas hasil pencarian Google dengan mengevaluasiwebsite dan mengidentifikasi bidang yang menjadi perhatian dan kepentingan.
* Bekerja sama dengan tim teknik untuk meningkatkan kualitas pencarian Google.
* Memeriksa isu-isu kualitas pencarian di indeks Google termasuk memerangi spam.
* Fokus pada peningkatan kualitas pencarian Google di Indonesia.

Prestasi yang diukir Gita Cherry Prabhandhari ini membuktikan bahwa dunia teknologi informasi bukan hanya milik kaum laki-laki saja, namun perempuan juga dapat berperan di bidang ini.
Wajahnya yang ayu khas Indonesia, apalagi nama Gita Cherry Prabhandhari yang mengingatkan kita akan girlband Cherry Belle, tentu menjadi daya tarik yang menarik tersendiri, apalagi bagi para SEO Fighter dan Website Administrator / Owner.

*****I
Ini membuktikan bahwa kualitas sumber daya manusia di Indonesia ini tidak kalah dengan orang Eropa atau Amerika, semoga semakin banyak putra-putri bangsa yang mencetak prestasi seperti si manis Gita Cherry Prabhandhari.

sumber

Profesor Termuda AS Ternyata Orang Asli Indonesia

Nelson Tansu, Profesor Termuda AS Ternyata Orang Asli Indonesia
Nelson Tansu meraih gelar Profesor di bidang Electrical Engineering di Amerika sebelum berusia 30 tahun. Karena last name-nya mirip nama Jepang, banyak petinggi Jepang yang mengajaknya “pulang ke Jepang” untuk membangun Jepang. Tapi Prof. Tansu mengatakan kalau dia adalah pemegang paspor hijau berlogo Garuda Pancasila. Namun demikian, ia belum mau pulang ke Indonesia . Kenapa?

Nelson Tansu lahir di Medan , 20 October 1977. Lulusan terbaik dari SMA Sutomo 1 Medan. Pernah menjadi finalis team Indonesia di Olimpiade Fisika. Meraih gelar Sarjana dari Wisconsin University pada bidang Applied Mathematics, Electrical Engineering and Physics (AMEP) yang ditempuhnya hanya dalam 2 tahun 9 bulan, dan dengan predikat Summa Cum Laude. Kemudian meraih gelar Master pada bidang yang sama, dan meraih gelar Doktor (Ph.D) di bidang Electrical Engineering pada usia 26 tahun. Ia mengaku orang tuanya hanya membiayai-nya hingga sarjana saja. Selebihnya, ia dapat dari beasiswa hingga meraih gelar Doktorat. Dia juga merupakan orang Indonesia pertama yang menjadi Profesor di Lehigh University tempatnya bekerja sekarang.

Thesis Doktorat-nya mendapat award sebagai “The 2003 Harold A. Peterson Best ECE Research Paper Award” mengalahkan 300 thesis Doktorat lainnya. Secara total, ia sudah menerima 11 scientific award di tingkat internasional, sudah mempublikasikan lebih 80 karya di berbagai journal internasional dan saat ini adalah visiting professor di 18 perguruan tinggi dan institusi riset. Ia juga aktif diundang sebagai pembicara di berbagai even internasional di Amerika, Kanada, Eropa dan Asia.

Karena namanya mirip dengan bekas Perdana Menteri Turki, Tansu Ciller, dan juga mirip nama Jepang, Tansu, maka pihak Turki dan Jepang banyak yang mencoba membajaknya untuk “pulang”. Tapi dia selalu menjelaskan kalau dia adalah orang Indonesia. Hingga kini ia tetap memegang paspor hijau berlogo Garuda Pancasila dan tidak menjadi warga negara Amerika Serikat. Ia cinta Indonesia katanya. Tetapi, melihat atmosfir riset yang sangat mendukung di Amerika, ia menyatakan belum mau pulang dan bekerja di Indonesia. Bukan apa-apa, harus kita akui bahwa Indonesia terlalu kecil untuk ilmuwan sekaliber Prof. Nelson Tansu.

Ia juga menyatakan bahwa di Amerika, ilmuwan dan dosen adalah profesi yang sangat dihormati di masyarakat. Ia tidak melihat hal demikian di Indonesia. Ia menyatatakan bahwa penghargaan bagi ilmuwan dan dosen di Indonesia adalah rendah. Lihat saja penghasilan yang didapat dari kampus. Tidak cukup untuk membiayai keluarga si peneliti/dosen. Akibatnya, seorang dosen harus mengambil pekerjaan lain, sebagai konsultan di sektor swasta, mengajar di banyak perguruan tinggi, dan sebagainya. Dengan demikian, seorang dosen tidak punya waktu lagi untuk melakukan riset dan membuat publikasi ilmiah. Bagaimana perguruan tinggi Indonesia bisa dikenal di luar negeri jika tidak pernah menghasilkan publikasi ilmiah secara internasional?

Prof. Tansu juga menjelaskan kalau di US atau Singapore, gaji seorang profesor adalah 18-30 kali lipat lebih dari gaji professor di Indonesia. Sementara, biaya hidup di Indonesia cuma lebih murah 3 kali saja. Maka itu, ia mengatakan adalah sangat wajar jika seorang profesor lebih memilih untuk tidak bekerja di Indonesia. Panggilan seorang profesor atau dosen adalah untuk meneliti dan membuat publikasi ilmiah, tapi bagaimana mungkin bisa ia lakukan jika ia sendiri sibuk “cari makan”.